URBANCITY.CO.ID – Eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran memicu lonjakan tajam harga minyak mentah dunia hingga melampaui ambang batas US$ 100 per barel. Meski tekanan pasar global menguat, Pemerintah Indonesia memberikan jaminan bahwa harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi, khususnya Pertalite, tidak akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat.
Mengutip laporan Al Jazeera, harga minyak mentah jenis Brent melonjak lebih dari 20 persen pada Minggu, 8 Maret 2026, bahkan sempat menyentuh angka US$ 114 per barel. Tren penguatan berlanjut pada Senin pagi, 9 Maret 2026, di mana Brent untuk pengiriman Mei 2026 bertengger di level US$ 111,04 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik ke posisi US$ 107,40 per barel.
Data Reuters mencatat ini merupakan kali pertama harga minyak dunia menembus angka psikologis US$ 100 sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 silam.
Jaminan Pemerintah di Tengah Ramadan dan Lebaran
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan masyarakat tidak perlu cemas terhadap fluktuasi harga global tersebut. Ia memastikan stabilitas harga BBM subsidi akan terjaga setidaknya hingga masa mudik Idul Fitri 1447 Hijriah usai.
Baca Juga : ENTREV: Konsumen Mobil Listrik di Indonesia Kian Rasional, Pilih Efisiensi Ketimbang Gaya Hidup
“Sekali lagi saya pastikan, sampai dengan hari raya ini insyaallah enggak ada kenaikan harga BBM subsidi. Untuk subsidi,” kata Bahlil.
Politikus Partai Golkar ini juga meminta masyarakat untuk menghindari perilaku panic buying atau upaya penimbunan BBM. Ia menjamin distribusi tetap berjalan normal meski terdapat ancaman penutupan Selat Hormuz di Timur Tengah.
“Pasokan enggak ada masalah. Untuk puasa dan Hari Raya Idul Fitri semuanya terjamin, nggak ada masalah,” tutur Bahlil.




