URBANCITY.CO.ID – Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan optimistis mengenai kelanjutan operasi militer di Timur Tengah. Di tengah guncangan pasar keuangan global dan meroketnya harga minyak mentah hingga melampaui 100 dollar AS per barel, Trump menyebut perang melawan Iran diperkirakan akan berakhir dalam waktu dekat.
“Kita mencapai kemajuan besar dalam menyelesaikan tujuan militer kita,” ujar Trump pada Minggu, 9 Maret 2026, sembilan hari setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara masif ke Iran.
Berbicara dari klub golf miliknya, Trump National Doral di Miami, Trump mengeklaim kekuatan militer Teheran telah lumpuh total. Ia menyebut lebih dari 50 kapal angkatan laut Iran hancur, sementara sistem pertahanan udara dan angkatan udara negara tersebut telah dilemahkan secara signifikan.
“Kami telah melenyapkan setiap kekuatan di Iran, secara menyeluruh,” kata Trump. Ia menambahkan bahwa struktur komando lawan telah runtuh pasca-serangan. “Mereka tidak punya kepemimpinan. Semuanya sudah hancur berantakan,” ujarnya.
Baca Juga : Gelombang Resign Nasional Usai THR Cair: Antara Hak Finansial dan Refleksi Psikologis
Meski Trump mengeklaim kemenangan sudah di depan mata, para pengamat internasional mempertanyakan apa sebenarnya tujuan akhir (endgame) dari agresi ini. Sejak 28 Februari lalu, AS dilaporkan telah menghantam hampir 2.000 target, termasuk fasilitas nuklir, kilang minyak, hingga wilayah sipil yang menewaskan lebih dari 1.200 warga Iran, termasuk 160 anak-anak.
Operasi ini juga berhasil menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam serangan di Teheran. Namun, hingga kini Gedung Putih belum memberikan penjelasan rinci mengenai skenario politik pasca-perang.
“Tujuan dari serangan itu adalah penyerahan diri rezim secara instan dan pemberontakan rakyat,” ujar Mustafa Hyder Sayed, Direktur Eksekutif Institut Pakistan-China, kepada Aljazeera.
Muhanad Seloom, asisten profesor dari Doha Institute for Graduate Studies, menilai strategi Trump didorong oleh “taruhan yang tidak diungkapkan”. Washington tampaknya berasumsi bahwa dengan melenyapkan tokoh sentral seperti Khamenei, sistem pemerintahan Republik Islam akan runtuh seketika.
Namun, kalkulasi tersebut tampaknya meleset. Alih-alih terjadi pemberontakan domestik yang masif atau kevakuman kekuasaan, Teheran dengan cepat mengumumkan putra Ali Khamenei, Mojtaba Khamenei, sebagai penerus takhta Pemimpin Tertinggi pada Minggu lalu.
Sayed menilai kondisi ini menunjukkan adanya salah perhitungan di pihak Washington mengenai daya tahan (resilience) institusi politik Iran. “Amerika Serikat tampaknya tidak sepenuhnya memperhitungkan daya tahan Iran dalam menghadapi konflik berkepanjangan,” tuturnya.
Di sisi lain, Iran terus memberikan perlawanan dengan meluncurkan ratusan rudal dan ribuan drone ke arah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk sebagai balasan atas tewasnya pemimpin mereka. Trump sendiri menegaskan bahwa meski belum menargetkan infrastruktur listrik, AS tidak menutup kemungkinan melakukan langkah militer tambahan jika diperlukan.




