URBANCITY.CO.ID – Pusat Astronomi Internasional (IAC) memprediksi mayoritas negara di dunia akan merayakan Idulfitri 1447 Hijriah pada Jumat, 20 Maret 2026.
Prediksi ini didasarkan pada perhitungan posisi bulan yang dinilai hampir mustahil teramati pada Rabu petang, 18 Maret 2026.
Direktur IAC, Mohammed Shawkat Odeh, menjelaskan bahwa konjungsi astronomis baru terjadi setelah matahari terbenam pada Rabu waktu setempat.
Kondisi ini membuat hilal tidak akan tampak di ufuk, sehingga bulan Ramadan kemungkinan besar akan digenapkan menjadi 30 hari (istikmal).
Baca Juga: Sidang Isbat Idul Fitri 19 Maret 2026, MUI Prediksi Hilal Sulit Terlihat
“Melihat hilal Syawal pada hari Rabu tidak mungkin karena bulan akan terbenam sebelum matahari, dan konjungsi astronomis terjadi setelah matahari terbenam,” ujar Odeh, seperti dikutip dari Gulf News, Rabu, 18 Maret 2026.
Tantangan Visibilitas Hilal
Odeh menambahkan, meskipun pengamatan dilanjutkan pada Kamis, 19 Maret 2026, posisi hilal masih sangat rendah dan sulit diamati.
Di wilayah Asia Barat dan Afrika, hilal hanya mungkin terlihat menggunakan bantuan teleskop dengan syarat kondisi langit sangat cerah.
Situasi serupa terjadi di Jakarta. Data teknis menunjukkan bulan hanya bertahan sekitar 10 menit setelah matahari terbenam dengan usia bulan baru 11 jam. Posisi ini dinilai tidak memungkinkan untuk diamati meski menggunakan alat bantu optik sekalipun.
Baca Juga: Menanti Hilal di Langit Nusantara: Sidang Isbat dan Kepastian Awal Ramadhan 1447 H
“Sebagian besar negara diperkirakan akan mengumumkan Jumat, 20 Maret sebagai hari pertama Idulfitri. Namun, sejumlah negara mungkin tidak dapat mengonfirmasi penampakan tersebut, yang dapat menyebabkan Sabtu, 21 Maret dinyatakan sebagai Idulfitri,” kata Odeh.




