URBANCITY.CO.ID – Gelombang protes bertajuk “No Kings” mengguncang berbagai penjuru Amerika Serikat. Jutaan warga tumpah ruah ke jalanan, mulai dari kota metropolitan hingga wilayah suburban, untuk menyuarakan penolakan keras terhadap arah kebijakan Presiden Donald Trump yang dinilai otoriter dan mengancam pilar demokrasi.
Para demonstran membawa sederet isu krusial, mulai dari kebijakan imigrasi yang kontroversial, ketegangan geopolitik dengan Iran, hingga jeratan biaya hidup yang kian mencekik.
Di Minneapolis, keresahan warga kristal dalam bentuk tanggung jawab sipil. Salah satu demonstran menegaskan bahwa diam bukan lagi pilihan saat fondasi negara goyah.
“Demokrasi sedang terancam,” ujarnya singkat namun tajam.
Baca Juga : Teheran Bantah Klaim Donald Trump Soal Negosiasi Rahasia Iran-Amerika Serikat
Sentimen serupa dibawa oleh Tom Arndorfer. Dengan poster satir bertuliskan “Elvis adalah satu-satunya raja”, ia menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi global saat ini.
“Sangat menyedihkan apa yang terjadi di negara ini dan di dunia. Saya hanya ingin suara saya didengar bersama orang lain,” kata Tom.
Di Chicago, aksi ini bahkan mampu menggerakkan mereka yang sebelumnya apolitis. Chris Holy, seorang veteran, mengaku ini adalah kali pertama ia turun ke jalan untuk berdemonstrasi.
“Saya melihat ketidakadilan yang terjadi. Menurut saya, apa yang dialami masyarakat saat ini tidak benar, dan saya ingin menyampaikan ketidakpuasan saya,” ucap Chris.
Aksi di New York juga tak kalah masif. Yohanna, seorang peserta aksi, menyebut daftar kekecewaannya terlalu panjang untuk dimuat dalam satu poster. Namun, intinya tetap satu: menjaga kedaulatan rakyat.
“Kalau kita ingin demokrasi, kita harus ikut berpartisipasi dan menjaganya,” tegas Yohanna.
Meski situasi terasa buntu bagi sebagian orang, pesan optimisme tetap bergaung. Di Portland, perwakilan serikat guru, Fedrick Ingram, menyerukan persatuan sebagai kunci melewati masa sulit.
“Kita pernah mengalami masa sulit sebelumnya, dengan kebijakan dan pemimpin yang tidak ideal. Tapi kita selalu bisa bangkit dengan bersatu,” kata Fedrick.
Kontras terlihat di Los Angeles. Di satu sisi, massa membawa nuansa karnaval dengan iringan musik salsa dan kostum unik sebagai bentuk protes damai.
“Ini cara kami menyampaikan pesan tanpa kekerasan, dengan cara yang ringan tapi tetap bermakna,” ujar seorang peserta di sana.
Namun, ketegangan pecah di pusat kota Los Angeles. Aparat keamanan dilaporkan menembakkan gas air mata setelah terjadi aksi pelemparan benda ke arah gedung federal oleh oknum demonstran. Polisi setempat melakukan sejumlah penangkapan terhadap massa yang enggan membubarkan diri.
Secara keseluruhan, gerakan ‘No Kings’ menjadi sinyal kuat meningkatnya kesadaran politik warga AS menjelang kontestasi politik mendatang. Di Sacramento, seorang peserta berharap aksi ini menjadi pemantik bagi pemilih untuk lebih kritis.
“Semoga lebih banyak orang mulai memikirkan siapa yang mereka pilih,” pungkasnya.




