URBANCITY.CO.ID – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bergerak cepat membentengi sektor keuangan nasional dari ketidakpastian global yang kian tajam.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menyatakan bahwa pengawasan intensif dan reformasi transparansi menjadi harga mati untuk menjaga resiliensi ekonomi Indonesia.
Di tengah memanasnya konflik Iran dengan AS-Israel, OJK telah menyiapkan berbagai skenario untuk memitigasi fluktuasi pasar dan tekanan inflasi yang membayangi industri jasa keuangan.
Benteng Menghadapi Gejolak Global
Friderica mengungkapkan bahwa OJK tengah melakukan stress test secara berkala terhadap industri jasa keuangan.
Baca Juga:Â Fundamental Kokoh, Saham Pertamina Group Tahan Banting di Tengah Fluktuasi Pasar Modal 2026
Langkah ini diambil untuk memastikan Lembaga Jasa Keuangan (LJK) memiliki daya tahan kuat terhadap potensi pengetatan kebijakan moneter global.
“LJK perlu memperkuat penerapan manajemen risiko secara menyeluruh, termasuk penguatan kualitas asesmen terhadap eksposur risiko pasar dan risiko kredit,” ujar Friderica.
Tak hanya itu, OJK bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) telah memperpanjang masa berlaku instrumen kebijakan pasar saham.
Kebijakan ini mencakup buyback saham tanpa RUPS, kebijakan trading halt, hingga pembatasan Auto Rejection guna meredam volatilitas.
Baca Juga:Â Pasar Modal Tembus 26 Juta Investor, BEI Rilis Kampanye Karbon Individu Aku Net-Zero Hero
Reformasi Transparansi dan Pengakuan Dunia
Salah satu capaian krusial di bawah kepemimpinan Friderica adalah tuntasnya empat agenda reformasi transparansi pasar modal.




