URBANCITY.CO.ID – InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) secara resmi meluncurkan program pengelolaan lingkungan berbasis komunitas bertajuk Green Movement: Eco Enzyme Action.
Langkah ini diwujudkan melalui pelatihan pengolahan sampah organik menjadi cairan multiguna eco enzyme yang digelar di Gedung Wantilan ITDC, kawasan pariwisata The Nusa Dua, Bali, pada Jumat (29/5).
Inisiatif strategis ini menyasar 30 peserta yang bersentuhan langsung dengan ekosistem pesisir dan pemukiman setempat.
Komunitas tersebut mencakup 18 pedagang yang tergabung dalam Paguyuban Pantai The Nusa Dua serta 12 perwakilan masyarakat Kelurahan Benoa melalui Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM).
Baca Juga: Investasi Mandalika Tembus Rp6 Triliun, ITDC Kebut Infrastruktur Wisata Dunia
Agenda bertaraf pelestarian ini turut dikawal oleh sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Kepala Seksi Pembangunan Kelurahan Benoa I Wayan Widiana yang hadir mewakili Lurah Benoa, Ketua LPM Benoa I Made Muliasa, serta jajaran manajemen ITDC.
Mengubah Limbah Dapur Menjadi Cairan Multiguna
Melalui forum ini, para peserta dibekali kecakapan praktis untuk mengolah limbah dapur organik—seperti sisa kulit buah dan sayuran—menjadi eco enzyme.
Cairan hasil fermentasi tersebut terbukti memiliki nilai guna yang tinggi, baik sebagai pupuk organik alami bagi tanaman maupun media pembersih rumah tangga yang ramah lingkungan.
Baca Juga: Strategi ITDC Dorong Green Tourism Melalui Infrastruktur Ekologis di Bali dan NTB
Guna memastikan transfer ilmu berjalan optimal, ITDC menghadirkan pakar manajemen limbah, I Made Tirta Jati, yang merupakan Ketua Unit Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPS3R) Sadu Sumerta Kaja, Denpasar, sebagai narasumber utama.
Made Purnama Damayanti, Vice President Commercial & Relation The Nusa Dua, menegaskan pentingnya menumbuhkan kebiasaan positif yang sederhana namun berdampak masif dari lingkungan rumah tangga.
“Melalui program ini, kami ingin mendorong kesadaran bahwa pengelolaan sampah organik dapat dimulai dari rumah dan lingkungan sekitar. Eco enzyme menjadi salah satu langkah sederhana yang tidak hanya membantu mengurangi residu sampah, tetapi juga memberi manfaat bagi lingkungan sehari-hari.”
“Kami berharap peserta tidak hanya memperoleh pemahaman baru, tetapi juga terdorong untuk menerapkan praktik-praktik ini secara konsisten dan membagikannya di lingkungan masing-masing. Sehingga secara bertahap dapat tumbuh menjadi kebiasaan bersama dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih baik,” ujarnya.
Baca Juga: Strategi ITDC Dorong Green Tourism Melalui Infrastruktur Ekologis di Bali dan NTB
Pendampingan Intensif Dua Bulan Pasca-Pelatihan
Komitmen ITDC dalam program Green Movement tidak berhenti pada seremoni pelatihan semata. Perusahaan telah menyusun peta jalan pendampingan intensif selama dua bulan ke depan untuk memantau proses fermentasi eco enzyme yang dilakukan secara mandiri oleh tiap peserta.
Langkah jangka panjang ini bertujuan untuk memastikan akurasi penerapan materi di lapangan, mengurai kendala teknis yang dihadapi warga, sekaligus mendokumentasikan efektivitas hasil pemrosesan sampah organik rumah tangga tersebut.
Komitmen Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL)
Program edukasi berkelanjutan ini merupakan pilar utama dari implementasi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) ITDC.
Baca Juga: IITDC Kebut Pemulihan KEK Mandalika: Pengerukan Sedimen hingga Trauma Healing Pasca-Banjir
Program ini dirancang selaras dengan konsep community development (pengembangan masyarakat) di lingkar luar destinasi pariwisata The Nusa Dua.
Bagi badan usaha pengelola kawasan pariwisata ini, pelibatan aktif masyarakat lokal menjadi kunci utama dalam menjaga mutu ekosistem pariwisata sekaligus memperkokoh budaya pelestarian lingkungan di sekitar destinasi internasional.
“Kami percaya kualitas sebuah kawasan tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, tetapi juga melalui kepedulian bersama dalam menjaga lingkungan. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi bagian vital dalam menciptakan kawasan yang nyaman, sehat, dan bernilai bagi masyarakat maupun pengunjung.”
“Harapannya, semangat menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan dapat terus tumbuh dan menjadi bagian dari keseharian,” pungkas Made Purnama Damayanti. (*)




