URBANCITY.CO.ID – Indonesia sukses mengukuhkan posisi sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global dengan catatan surplus neraca perdagangan nonmigas.
Raihan angka surplus perdagangan tersebut terbilang cukup besar, mencapai USD 16,31 miliar hingga Mei 2026.
Kinerja impresif ini menjadi sinyal positif bagi Anda, masyarakat urban dan investor, bahwa fundamental ekonomi nasional tetap resilien di tengah ketidakpastian dunia.
Dominasi komoditas nonmigas yang mencapai 95,52 persen dari total ekspor membuktikan bahwa diversifikasi produk bernilai tambah menjadi kunci sukses keberlanjutan ekonomi kita.
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, memaparkan rincian capaian ini dalam keterangan resminya, Rabu (1/7/2026).
Surplus neraca perdagangan nonmigas hingga Mei 2026 didorong oleh kinerja positif ekspor yang mencatat nilai USD 110,19 miliar.
“Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan total impor sebesar USD 93,88 miliar,” jelasnya.
Baca juga: Rekor! Neraca Perdagangan Indonesia Surplus 71 Bulan Beruntun hingga Maret 2026
Hilirisasi Industri Sebagai Motor Pertumbuhan
Sektor industri pengolahan memimpin lonjakan ekspor dengan nilai mencapai USD 94,62 miliar atau tumbuh 6,80 persen.
Hilirisasi produk olahan nikel dan minyak kelapa sawit kini menjadi tulang punggung yang memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa negara.
Bagi pelaku bisnis, tren kenaikan ekspor olahan nikel yang mencapai 61,06 persen menawarkan cakrawala investasi baru yang sangat menjanjikan dalam jangka panjang.
Ekspor sektor industri pengolahan dengan kinerja yang impresif yaitu ekspor produk olahan nikel dan minyak kelapa sawit.



