URBANCITY.CO.ID – Bisnis properti Indonesia memasuki fase konsolidasi pada 2026. Penjualan rumah memang melambat, tetapi kondisi tersebut tidak serta-merta menutup peluang investasi. Tingginya kebutuhan hunian, pertumbuhan kawasan urban, serta dukungan pembiayaan perbankan masih menjadi fondasi kuat yang menjaga prospek sektor properti dalam jangka panjang.
Hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia menunjukkan harga rumah di pasar primer masih tumbuh meski terbatas. Pada triwulan I 2026, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) meningkat 0,62 persen secara tahunan, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan 0,83 persen pada triwulan sebelumnya. Kondisi ini menunjukkan harga properti tetap bergerak stabil sehingga memberi ruang bagi calon pembeli untuk masuk ke pasar sebelum harga kembali meningkat.
Rumah Menengah Jadi Penopang, Kebutuhan Hunian Tetap Tinggi
Di sisi lain, volume penjualan properti residensial masih mengalami tekanan. Penjualan rumah di pasar primer turun 25,67 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan terutama terjadi pada rumah tipe kecil dan besar, sedangkan rumah tipe menengah justru masih mencatat pertumbuhan penjualan. Tren tersebut mengindikasikan bahwa pasar masih memiliki permintaan yang sehat, terutama dari masyarakat yang membeli rumah untuk dihuni.
Daya beli masyarakat memang belum pulih sepenuhnya. Namun, pengembang memilih menahan kenaikan harga agar produk tetap kompetitif. Strategi tersebut menjadi keuntungan bagi konsumen, khususnya kalangan urban yang ingin memiliki rumah pertama atau menambah aset properti dengan harga yang masih relatif stabil.




