URBANCITY.CO.ID – Masyarakat urban kini memandang makanan melampaui kebutuhan dasar penawar lapar. Gaya hidup modern menempatkan pengalaman kuliner autentik sebagai simbol status sosial, rekreasi eksklusif, sekaligus portofolio investasi sektor kreatif yang sangat menjanjikan.
Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG) Talks 2026 di Grand Hotel De Djokja pada Sabtu (3/10/2026) merumuskan strategi matang untuk mengonversi warisan rasa Nusantara menjadi mesin pertumbuhan ekonomi baru.
Forum prestisius ini mempertemukan 22 panelis lintas disiplin guna mengeksplorasi potensi monetisasi gastronomi berbasis narasi autentik dan keberlanjutan.
Menjual Narasi Budaya dan Eksotisme Kuliner Berkelanjutan
Baca Juga: Fatwa Muktamar Ke-35 NU: Bitcoin Sah Jadi Aset Investasi
Wisata gastronomi modern menjual pengalaman multisensori yang menguntungkan ekosistem kota. Penghageng Kawedanan Hageng Nitya Budaya Keraton Yogyakarta sekaligus Ketua BPPD DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara, menegaskan bahwa nilai jual tertinggi kuliner berada pada orisinalitas akar sejarahnya.
Komoditas legendaris seperti gula dan rempah menyimpan riwayat panjang yang siap memikat pasar penikmat gaya hidup premium.
“Semua produk wisata gastronomi di Jogja harus memiliki latar belakang cerita. Contohnya, mengapa kuliner Jogja cenderung manis? Karena pada masa Sultan Hamengkubuwono VII, terdapat sekitar 19 pabrik gula di Jogja. Gula menjadi simbol status sosial dan kekayaan bagi keraton, sehingga minuman dan makanan saat itu disajikan sangat manis. Jadi, orang tahu rekam sejarahnya; ini yang harus dikemas dengan baik,” kata GKR Bendara.
Eksplorasi hidangan langka seperti nasi golong gilig dan dawet sambal membuktikan peluang ekspansi menu unik bagi para inovator F&B perkotaan. Konsumen urban selalu mencari kebaruan rasa yang dipadukan dengan narasi estetis media sosial.
Baca Juga:Â OJK Dorong Kekayaan Intelektual Jadi Aset Investasi dan Perluas Investor Reksa Dana
“Karena terkadang orang baru mendengar dawet sambal sudah menolak dulu, karena pikirannya dawet manis kok ada sambalnya. Jadi dawet manis tapi ada sambal pecelnya, jadi ada tahunya tapi ada dawetnya,” ungkapnya.
Wali Kota Bukittinggi Ramlan Nurmatias melengkapi visi tersebut dengan mendorong integrasi kuliner tradisional ke dalam lanskap ekonomi kota pusaka (heritage city).
Kolaborasi penataan kota modern dan narasi kuliner legendaris otomatis melipatgandakan belanja turis domestik maupun internasional.
“Gastronomi harus terus dicatat, diwariskan, dan diintegrasikan dengan penataan kota pusaka serta cerita sejarah agar memberikan nilai tambah yang optimal bagi wisatawan,” ujar Ramlan.
Baca Juga:Â Gaya Hidup Urban dan Investasi: BNI Perkuat Ekosistem Batik Nasional
Skalabilitas Bisnis F&B dan Dukungan Pembiayaan Modal Kreatif
Para pelaku bisnis F&B perkotaan terus memvalidasi selera pasar yang makin kritis dan berdaya beli tinggi.
Chef Fernando Sindu dari Salira menggarisbawahi pentingnya mempertahankan DNA resep asli sebelum mengembangkannya menjadi menu fusion modern berkelas.
“Orang Indonesia sangat kritis terhadap makanan lokal karena memiliki kenangan atau ikatan emosional dengan masakan keluarga seperti nenek atau ibu. Jadi penting banget untuk memahami resep dari sumber aslinya di berbagai daerah agar dapat menyajikan makanan yang autentik sekaligus memberikan sedikit sentuhan atau modifikasi yang dapat dipertanggungjawabkan kepada konsumen,” ungkap Fernando.
Baca Juga:Â Mantan Perokok Wajib Skrining Paru, Investasi Sehat Gaya Hidup Urban
Peluang industrialisasi produk lokal juga terbukti lewat kesuksesan Chocolate Monggo yang merintis cokelat murni (couverture) sejak 2005.
Pendirinya, Thierry Detournay, mendirikan pabrik edukatif dan museum yang memikat kaum urban pencinta produk artisan berkelanjutan.
“Kakao Indonesia memiliki kualitas yang bagus. Dan ini harus bisa dimanfaatkan oleh masyarakat agar bisa menghasilkan cokelat berkualitas dengan mengolah yang benar,” ujar Thierry.
Lembaga keuangan besar seperti Bank BTN dan jaringan operator tur Panorama Group menyambut tren ini dengan merancang skema pembiayaan modal ventura serta paket rute gastrowisata terintegrasi.
Baca Juga:Â 3 Mesin Ekonomi Nasional Pacu Peluang Investasi dan Gaya Hidup Urban
Akses modal kerja mempercepat UMKM kuliner naik kelas, memperkuat rantai pasok rantel nasional, dan memfasilitasi adopsi transaksi nontunai digital.
Kreator visual seperti sutradara Nia Dinata dan desainer interior Ruby Roesli turut mengamplifikasi atmosfer kuliner menjadi modal kreatif bernilai jual tinggi.
Desain dapur terbuka bergaya warung tradisional hingga visualisasi sketsa makanan mengukuhkan kuliner lokal sebagai tren gaya hidup sinematik.
“Bagian tersulit bukan menggambarkan rasa, melainkan menangkap budaya di balik makanan tersebut karena memiliki latar belakang sejarah yang panjang dan mendalam,” ujar Nugraha.
Baca Juga:Â Program 3 Juta Rumah: Akselerasi Aset dan Gaya Hidup Urban Terjangkau
Strategi Ekspansi Kuliner Nusantara Menembus Pasar Global
Langkah penetrasi ke pasar internasional menjadi fase pamungkas dalam peta jalan investasi gastronomi nasional.
Keberhasilan TUKU membuka cabang di Amsterdam serta operasional restoran autentik Chef Agus Hermawan membuktikan daya saing komoditas lokal di Eropa.
Konsumen global bersedia membayar premi tinggi untuk sajian yang mengusung konsistensi mutu, transparansi bahan baku, dan etika keberlanjutan.
Baca Juga:Â SNI Wajib AMDK: Dongkrak Daya Saing Investasi dan Jamin Gaya Hidup Sehat Urban
Kementerian Pariwisata optimistis bahwa sinergi pentahelix mampu mengerek valuasi industri F&B lokal menjadi kekuatan diplomasi ekonomi yang berdaya saing global.
Gastronomi Nusantara kini tampil percaya diri menggerakkan ekonomi riil, membuka lapangan kerja kreatif, dan menegaskan identitas gaya hidup berkelas dari daerah menuju pentas dunia.




