URBANCITY.CO.ID – Pasar global kini memburu otentisitas, dan industri kreatif nasional siap mengonversi nilai budaya menjadi aset ekonomi bernilai tinggi.
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar, menerima audiensi Atase Perdagangan KBRI Tokyo, Merry Astrid Indriasari, untuk membedah potensi ekspansi kekayaan intelektual (IP), talenta, dan produk gaya hidup Indonesia ke Jepang. Langkah ini mempertegas arah baru komersialisasi ekonomi kreatif nasional menuju skala internasional.
“Pertemuan ini menjadi langkah strategis untuk menyinergikan dan memperluas akses pasar global bagi produk kreatif Indonesia. Kementerian Ekraf siap menjadi mitra strategis dalam proses kurasi hingga pendampingan produk mengenai rencana partisipasi Indonesia dalam berbagai acara festival internasional seperti Indonesia-Japan Friendship Festival (IJFF) 2026,” ungkap Wamen Ekraf di Autograph Tower, Jakarta, Senin (12/10).
Monetisasi Kekayaan Intelektual Lewat Kolaborasi Global
Baca Juga: Peluang Cuan Ekspor IKM: Kemenperin Pacu Sektor Menengah Naik Kelas ke Pasar Global
Pemerintah memperluas sinergi bisnis melalui perhelatan World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta.
Mengusung tema “Inclusively Creative: Collective Continuity”, forum internasional ini mempertemukan investor institusi, kreator, dan pemangku kebijakan lintas negara guna memfasilitasi transaksi lisensi serta pendanaan IP bernilai strategis.
Kehadiran mitra global seperti Jepang mempercepat integrasi produk lokal ke dalam ekosistem rantai pasok industri modern.
“Indonesia memiliki kekayaan ide, kreativitas, dan identitas yang bisa menjadi daya tarik tersendiri di pasar global. Kita perlu memastikan bahwa produk dan karya kreatif yang dibawa ke Jepang tidak hanya tampil sebagai produk Indonesia, tetapi juga memiliki konsep promosi yang relevan, menarik, dan mampu membangun hubungan dengan konsumen setempat,” tambah Wamen Ekraf.
Baca Juga: Rahasia UMKM Lokal Tembus Pasar Global: Sentuhan Budaya dan Cuan Urban
Peluang Bisnis Produk Berkelanjutan Sesuai Selera Urban
Konsumen urban di kota-kota maju Jepang kian menggemari estetika minimalis, fungsional, dan ramah lingkungan.
Atase Perdagangan KBRI Tokyo, Merry Astrid Indriasari, melihat peluang besar bagi material kayu, kulit, dan rotan khas Nusantara untuk mengisi portofolio ritel premium Jepang.
Karakter desain yang matang dan narasi keberlanjutan menciptakan diferensiasi kompetitif yang mendongkrak margin keuntungan produk kriya lokal.
“Kalau kita ingin masuk ke pasar Jepang, jangan mencoba mengikuti gaya Jepang sepenuhnya. Tampilkan apa yang Indonesia punya. Justru ciri khas Indonesia itulah yang dapat diapresiasi oleh masyarakat Jepang dan menjadi nilai pembeda produk kreatif Indonesia,” ucap Merry.
Ekspansi Lintas Sektor untuk Perkuat Nilai Merek Lokal
Promosi internasional bertumpu pada rekam jejak sukses Osaka World Expo 2025 yang berhasil membangun citra positif talenta Nusantara.
KBRI Tokyo memanfaatkan ajang Indonesia-Japan Friendship Festival (IJFF) pada Desember 2026 untuk menembus konsumen arus utama Jepang di luar basis diaspora. Pameran kurasi ini merangkul 21 subsektor kreatif, mulai dari fesyen, kriya, hingga industri konten digital.
Baca Juga: Wamendag Roro Dorong Produk Lokal Karya Perempuan Indonesia Tembus Pasar Global
Produk gaya hidup seperti specialty coffee, racikan jamu artisanal, wewangian lokal, tas eksklusif, hingga musisi independen menyimpan daya tawar ekspor yang menjanjikan.
Kementerian Ekraf bersama para mitra terus mematangkan skema kemitraan bisnis terukur demi memastikan produk Indonesia memimpin tren gaya hidup global sekaligus memberikan imbal hasil nyata bagi pelaku usaha dalam negeri.




