URBANCITY.CO.ID –Â Aktivitas komputasi awan dan pemanfaatan kecerdasan buatan menyedot pasokan air bersih dalam volume raksasa. Laporan Science Alert pada Kamis, 22 Oktober 2026, membeberkan ancaman krisis hidrologi di balik ledakan industri digital. Sebuah riset terbaru mencatat satu fasilitas peladen sanggup mengonsumsi air setara kebutuhan harian kota berpenduduk 50 ribu jiwa.
Akibatnya, ekspansi pusat data memicu kekhawatiran besar terhadap ketahanan pasokan air bersih bagi masyarakat lokal.
Satu dari Empat Fasilitas Berdiri di Zona Krisis Air
Peneliti Carnegie Institution for Science memetakan sebaran 9.347 fasilitas pusat data di berbagai penjuru dunia. Jurnal Environmental Science & Technology mempublikasikan temuan mengkhawatirkan tersebut baru-baru ini. Kajian itu mengungkap 25 persen pusat data beroperasi di kawasan yang mengalami kelangkaan air tiap tahun.
Kondisi ini bakal memburuk seiring kenaikan suhu bumi rata-rata sebesar tiga derajat Celsius. Bahkan, proporsi fasilitas di zona krisis air berpotensi melonjak hingga 33 persen dalam sepuluh tahun mendatang.
Baca Juga :Â Pelindo Perkuat Ekosistem Mangrove Demak Jaga Investasi dan Logistik
“Fasilitas-fasilitas ini tidak dibangun di lahan kosong. Fasilitas-fasilitas ini dibangun di atas sumber air bagi kota-kota dan pertanian,” kata ilmuwan lingkungan Lorenzo Rosa, dari Carnegie Institution for Science.
Berebut Sumber Daya dengan Kota dan Petani Lokal
Berbeda dari listrik yang mengalir lewat kabel antardaerah, pasokan air sangat bergantung pada ekosistem lokal. Peta riset memperlihatkan 41 persen pusat data bersaing langsung dengan kawasan perkotaan demi memperoleh air tawar. Sementara itu, sebanyak 28 persen fasilitas lain merebut pasokan air yang menopang sektor pertanian.
Selain itu, sebanyak 523 fasilitas kini mengalami defisit air selama sedikitnya sembilan bulan dalam setahun.
“Jejak energi pusat data telah dikuantifikasi secara rinci karena listrik diukur dan dilaporkan. Kelangkaan air diukur secara lokal, tidak konsisten, dan seringkali tidak diukur sama sekali. Jadi, kami membuat peta ini karena peta itu belum ada,” ujar Rosa.




