URBANCITY.CO.ID – Langkah melantai di bursa saham kini menjadi tren baru bagi pelaku usaha dan investor urban yang mengincar instrumen investasi prospektif.
Kementerian UMKM menargetkan terbentuknya 10.000 perusahaan yang siap melakukan initial public offering (IPO) pada 2045 lewat program Go Public Academy for SMEs.
Pemerintah merancang inisiatif ini untuk memperkuat portofolio bisnis lokal agar mampu mencetak saham bernilai tinggi bagi masyarakat pemodal.
Sekretaris Kementerian UMKM Loto Srinaita Ginting menyampaikan hal itu dalam keynote speech peluncuran program di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2026).
Baca Juga: Pemprov DKI Pastikan Tetap Kuasai Mayoritas Saham IPO Bank Jakarta dan PAM Jaya
“Dalam rancangan jangka panjangnya, Go Public Academy for SMEs membawa aspirasi mendukung terbentuknya 10.000 perusahaan yang siap IPO pada tahun 2045,” ujar Loto.
Pemerintah memprioritaskan fondasi fundamental yang kokoh ketimbang mengejar angka listing semata di pasar modal. “Bagi saya, pesan terpenting dari arah tersebut bukan sekadar angka, melainkan kualitas basis perusahaan yang fundamental,” katanya.
Investor perkotaan kian selektif memburu emiten baru yang memiliki transparansi serta prospek laba berkelanjutan. “Kita ingin membangun lebih banyak calon perusahaan nasional yang mampu memenuhi standar transparansi, akuntabilitas, dan tata kelola yang semakin tinggi,” ujarnya.
Kementerian UMKM memperluas ekosistem ini ke berbagai daerah guna melahirkan calon emiten unggulan di luar Jakarta.
Baca Juga: OJK Tegaskan Tidak Terlibat Dalam Penawaran Jasa IPO oleh PT Investindo Public Optima
Kolaborasi kampus regional mempertemukan pelaku usaha dengan mentor industri dan analis keuangan profesional.
“Saya menyambut baik pendekatan yang menempatkan perguruan tinggi sebagai simpul atau regional hub dalam ekosistem Go Public Academy for SMEs,” ungkapnya.
Pilihan Strategis Memperkuat Aset Bisnis
Komunitas bisnis urban wajib melihat IPO sebagai instrumen akselerasi nilai valuasi, bukan sekadar jalan pintas memperoleh suntikan dana cepat. “IPO adalah sebuah pilihan strategis, bukan kewajiban, atau jalan pintas. Kelulusan dari program tentu bukan persetujuan untuk melakukan IPO.
Baca Juga: Gubernur Pramono: Bank Jakarta Harus Profesional dan Siap IPO
Kesiapan internal dan visi matang menjadi kunci utama emiten sebelum melepas kepemilikan saham ke publik. “Kita harapkan yang akan IPO benar-benar kesadaran dari perusahaan itu sendiri, bukan karena hanya dorongan dari semua pihak,” ia menambahkan.
Program pembinaan ini berfokus langsung pada perbaikan tata kelola, validitas laporan keuangan, dan rencana ekspansi pasar.
Standar ketat tersebut menjamin para investor memperoleh kepastian aset yang aman dan likuid saat berinvestasi pada saham UMKM.
Tujuh Tahapan Transformasi Menuju Bursa
Baca Juga: Bank DKI Resmi Bentuk KUB dengan Bank Maluku Malut, Perkuat Arah IPO dan Sinergi Regional
Kementerian merancang kurikulum komprehensif dalam tujuh tahapan untuk mematangkan tata kelola hingga perencanaan go public.
Keterlibatan universitas memastikan riset dan mitigasi risiko bisnis berjalan selaras dengan tuntutan pasar modal modern.
Ekosistem pasar modal sekaligus menjadi alternatif likuiditas segar di tengah tantangan rasio pembiayaan perbankan konvensional.
Langkah ini memberi ruang bagi masyarakat urban untuk ikut menyalurkan modal produktif langsung ke sektor riil yang berkembang pesat.
Baca Juga: Bagikan Dividen Rp249,31 Miliar, Bank DKI Siap Bertransformasi Melalui IPO
“Ini tantangan kita bersama, bagaimana melalui sumber-sumber pembiayaan UMKM, termasuk pasar modal, bisa membantu pemenuhan rasio pendanaan bagi UMKM untuk mencapai angka 25%,” ujarnya.
Standar Tata Kelola Memikat Minat Pemodal
Pelaku pasar modal selalu menakar kualitas manajemen dan kepatuhan hukum sebelum memarkirkan dana mereka pada emiten baru. “Akses pada modal dan kualitas perusahaan adalah dua sisi dari mata uang yang sama,” kata Loto.
Fondasi integritas menjadi pembeda utama antara bisnis spekulatif dan emiten yang mampu memberi dividen stabil.
Baca Juga: INTI Group Bakal Transformasi Total Hingga IPO Tahun Depan
Pelaku usaha menengah harus membangun kepercayaan pasar guna menjamin keberlanjutan investasi para pemegang saham.
“Modal dapat membuka kesempatan, tetapi kepercayaan dan tata kelola yang baiklah yang menjaga pertumbuhan perusahaan dalam jangka panjang,” katanya.




