<strong>URBANCITY.CO.ID</strong> - Masyarakat urban kini hidup dalam ekosistem cashless yang menuntut kewaspadaan tingkat tinggi. Sebab, scam digital mengancam. Ancaman scam digital yang kian canggih mengintai privasi dan keamanan aset virtual setiap individu. Merespons tantangan tersebut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat kolaborasi global bersama United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC). Tujuannya jelas, membangun benteng perlindungan konsumen yang kokoh. Langkah strategis ini memastikan setiap transaksi digital tetap aman dan terpercaya di tengah pesatnya adopsi teknologi keuangan. <h5><strong>Kepercayaan Sebagai Aset Paling Berharga</strong></h5> Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menekankan bahwa integritas sistem keuangan bergantung pada kepercayaan nasabah. <strong>Baca juga: <a href="https://urbancity.co.id/regulasi-baru-ojk-bpr-perkuat-modal-inti-demi-daya-saing-dan-keamanan-investasi-nasabah/">Regulasi Baru OJK: BPR Perkuat Modal Inti demi Daya Saing dan Keamanan Investasi Nasabah</a></strong> Dalam seminar di Jakarta, ia menyoroti bahwa penipuan digital bukan sekadar kerugian finansial, melainkan perusakan terhadap fondasi ekonomi digital. “Penipuan dapat melintasi batas negara dalam hitungan detik, memanfaatkan teknologi dalam skala besar," kata Friderica. "Bahkan, merusak sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang, yaitu kepercayaan," imbuhnya. Pemanfaatan money mule dan aset virtual oleh pelaku kejahatan menuntut respons cepat dari otoritas keuangan. Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat keberhasilan luar biasa dengan pemblokiran 557 ribu rekening. Selain itu, pengembalian dana korban senilai hampir Rp200 miliar hingga Juni 2026.<!--nextpage--> Angka ini membuktikan efektivitas sinergi lintas sektor dalam melawan kejahatan siber lintas batas. <strong>Baca juga: <a href="https://urbancity.co.id/tegas-ojk-tuntaskan-penyidikan-kasus-bpr-dcn-lindungi-nasabah-dari-praktik-perbankan-nakal/">Tegas! OJK Tuntaskan Penyidikan Kasus BPR DCN: Lindungi Nasabah dari Praktik Perbankan Nakal</a></strong> <h5><strong>Kolaborasi Global Melawan Ancaman Siber</strong></h5> Dukungan internasional mengalir deras dari PBB melalui UN Resident Coordinator in Indonesia, Gita Sabharwal. Mereka memuji peran IASC dalam menjaga stabilitas inklusi keuangan nasional. "Di luar kerugian finansial yang langsung dirasakan, setiap penipuan yang berhasil terjadi mengikis kepercayaan terhadap layanan keuangan digital," ujar Gita "Selain itu, melemahkan kepercayaan yang menjadi fondasi inklusi keuangan. Karena itu, melindungi kepercayaan tersebut menjadi sangat penting," cetusnya. Senada dengan hal tersebut, Resident Advisor dari United States Bureau of International Narcotics and Law Enforcement Affairs, Justin Brown, menekankan pentingnya kemitraan publik-swasta. Menurutnya, penipuan daring bukan lagi sekadar persoalan penegakan hukum. Tapi, merupakan tantangan bagi sektor keuangan, dan regulator. <strong>Baca juga: <a href="https://urbancity.co.id/cerdas-investasi-ojk-dorong-mahasiswa-gontor-kenali-pasar-modal-syariah-yang-legal-dan-logis/">Cerdas Investasi: OJK Dorong Mahasiswa Gontor Kenali Pasar Modal Syariah yang Legal dan Logis</a></strong> "Dan, perlindungan konsumen yang memerlukan respons kuat melalui kolaborasi sektor publik dan swasta," kata Justin. OJK terus memperdalam strategi pengawasan melalui customer due diligence dan pemantauan transaksi berbasis teknologi terkini. Melalui Public-Private Partnership (PPP), Indonesia siap membangun ekosistem keuangan yang lebih Tangguh,<!--nextpage--> Menyusul kemudian adalah memberikan rasa aman maksimal bagi seluruh pengguna layanan digital. (*)