Ambisi Kurangi Impor LPG
Meski stok BBM stabil, pemerintah masih menghadapi tantangan besar di sektor Liquefied Petroleum Gas (LPG). Saat ini, ketergantungan pada impor masih sangat tinggi. Dari total konsumsi nasional yang mencapai 8,6 juta ton per tahun, produksi dalam negeri hanya mampu menyumbang sekitar 1,6 hingga 1,7 juta ton.
“Selebihnya kita impor kurang lebih sekitar 7 juta. Dan ini terjadi sejak konversi daripada minyak tanah ke LPG,” tuturnya.
Untuk menekan angka impor yang membebani devisa negara, Kementerian ESDM tengah mengkaji sejumlah alternatif energi substitusi. Salah satu opsi yang masuk dalam radar pemerintah adalah pengembangan Dimethyl Ether (DME) yang memanfaatkan batu bara berkalori rendah.
Selain itu, opsi penggunaan Compressed Natural Gas (CNG) juga mulai diseriusi sebagai pendamping LPG untuk kebutuhan rumah tangga dan industri.
“Kemudian, kita cari alternatif, kita konversi untuk melakukan DME dari batu bara low calorie. Itu salah satu alternatif. Sekarang lagi masih dalam pembahasan yang tadi saya laporkan adalah kita membuat CNG,” kata Bahlil.
Bahlil berharap finalisasi opsi-opsi tersebut dapat segera tuntas guna mendorong kemandirian energi nasional di masa depan.






