URBANCITY.CO.ID – Serangan rudal menghantam area bandara di Arab Saudi. Situasi keamanan di kawasan tersebut kian memanas. Dua negara pengirim jemaah umrah terbesar langsung merespons kondisi genting ini. Malaysia dan Indonesia kompak menerbitkan imbauan keselamatan perjalanan ke Tanah Suci.
Pemerintah Malaysia menyarankan warganya menunda rencana keberangkatan umrah. Sementara itu, pemerintah Indonesia meminta jemaah meningkatkan kewaspadaan selama berada di Arab Saudi.
Rentetan insiden bermula di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Hantaman rudal itu menewaskan 13 orang. Selain itu, ledakan melukai lebih dari 300 orang. Serangan susulan kembali terjadi pada Minggu, 11 Oktober 2026. Insiden tersebut menewaskan satu korban dan mencederai belasan orang.
Malaysia Sarankan Tunda Perjalanan
Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan menyoroti potensi bahaya tersebut. Menurut dia, ledakan di ibu kota memicu alarm bahaya serius.
“Tidak ada insiden di Mekah, tetapi ledakan rudal di Riyadh telah menimbulkan kekhawatiran keamanan,” kata Mohamad Hasan seperti dikutip kantor berita nasional Bernama, Senin.
Pemerintah Malaysia meminta warga menunda perjalanan non-esensial ke Mekah dan Madinah. Kementerian Luar Negeri Malaysia memastikan tidak ada warga Malaysia yang menjadi korban dalam serangan di Riyadh maupun insiden proyektil di Dammam.
Indonesia Minta Jemaah Waspada
Pemerintah Indonesia mengambil langkah antisipasi yang berbeda. Otoritas tidak melarang keberangkatan, melainkan memperketat panduan keselamatan.
“Kami mendesak warga negara Indonesia di Arab Saudi, termasuk jamaah umrah, untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Ichsan Marsha, mengutip Antara.
Kemlu menginstruksikan para jemaah mematuhi arahan otoritas setempat demi keselamatan diri.
“Hindari lokasi rawan, patuhi peraturan yang berlaku, dan ikuti arahan dari pihak berwenang setempat. Keselamatan harus menjadi prioritas,” ujar Ichsan.
Pemerintah juga mengimbau warga agar mengabaikan kabar simpang siur. Jemaah di Arab Saudi perlu menjalin kontak rutin dengan pihak biro perjalanan. Sementara itu, calon jemaah harus terus memantau jadwal penerbangan bersama agen travel.




