Baca Juga: Buka SIAL Shanghai 2026, Wamendag Roro Esti Pacu Ekspor Kopi dan Kuliner
“Tidak hanya itu, lokakarya ini turut mendorong mahasiswa untuk mengambil peran sebagai calon eksportir, buyer, distributor, maupun penghubung produk Indonesia di Australia,” urai Haris, Minggu (24/5/2026).
Sinergi ini merupakan program berkelanjutan. Sebelumnya, Atdag Canberra bersama PPIA dan Mata Garuda ANZ juga sukses menginisiasi pop-up store bertajuk ‘Lokal untuk Global’ yang berhasil mempromosikan 42 merek UKM Indonesia ke konsumen Australia.
Kisah Sukses Mahasiswa Ekspor 30 Kontainer Plywood per Bulan
Ajang ini juga menghadirkan bukti nyata (success story) dari Agis Fendy Hasan Bachtiar. Alumnus University of Tasmania ini sukses mendirikan Agis Indoply International Pty Ltd dan rutin mengekspor kayu lapis (plywood) Indonesia ke pasar Malaysia, Thailand, hingga Uni Emirat Arab dengan volume menembus 30 kontainer per bulan.
Agis membagikan tips praktis mendirikan usaha di Australia, mulai dari pengurusan legalitas, rekening bisnis, hingga pentingnya penguasaan aturan International Commercial Terms (Incoterms) dalam kontrak dagang.
Baca Juga: Bingung Cari Buyer Luar Negeri? Kemendag Siapkan Pendampingan Ekspor dan Desain bagi UMKM
Langkah konkret ini memicu antusiasme peserta. Muhammad Zukhri Ihsan, mahasiswa Master of Marketing Management ANU, mengaku mendapat pemahaman baru yang sangat menguntungkan terkait insentif perdagangan antar-kedua negara.
“Saya memperoleh informasi yang sangat berharga dari Atdag RI Canberra dan Mas Agis, khususnya terkait kebijakan perdagangan Indonesia-Australia serta perspektif pelaku ekspor Indonesia. Saya juga baru mengetahui bahwa ekspor plywood dari Indonesia ke Australia tidak dikenakan pajak. Hal ini sangat menarik karena informasi tersebut belum banyak diketahui oleh masyarakat luas,” ungkap Zukhri. (*)




