URBANCITY.CO.ID – Harapan agar industri asuransi domestik menjadi tuan rumah di sektor hulu minyak dan gas bumi (migas) nasional masih membentur tembok kapasitas permodalan.
Meski potensi premi dari proyek energi sangat menggiurkan, kemampuan perusahaan asuransi lokal untuk menahan risiko (retention) secara mandiri dinilai masih terbatas.
Dalam diskusi “Bincang Santai EITS” di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026, Kepala Divisi Perpajakan, Asuransi dan Perbendaharaan SKK Migas, Achmad Rezki Isfadjar, menyebut industri hulu migas adalah pasar raksasa yang konsisten. Namun, ia menyayangkan sebagian besar porsi asuransi masih “terbang” ke pasar luar negeri.
“Kalau soal potensi, industri hulu migas itu besar sekali. Aktivitasnya terus ada, premi asuransinya juga ada. Spending dari kontraktor maupun industri pendukung lain juga besar. Tantangannya adalah bagaimana risiko dan kebutuhan asuransi industri hulu migas ini bisa menjadi market untuk rumah kita sendiri secara maksimal,” ujar Rezki.
Baca Juga: Produksi Migas Digenjot: Industri Asuransi Siap Tangkap Peluang Risiko di Sektor Hulu Energi
Risiko Ekstrem dan Tantangan Teknologi Baru

Presiden Direktur PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (Tugu Insurance), Adi Pramana, menjelaskan bahwa karakter risiko migas masuk dalam kategori low frequency, high severity.




