Sinyal Bahaya Tel Aviv Usai Bantuan Militer Disetop
Kondisi sebaliknya memukul pemerintah Israel di Tel Aviv. Trump secara mengejutkan menghentikan kucuran bantuan militer bertepatan pada hari pemungutan suara. Gelombang kemenangan Partai Demokrat mempertegas keretakan hubungan bilateral kedua negara. Mantan Duta Besar Israel untuk AS Michael Oren menyoroti lunturnya dukungan bipartisan.
“Satu-satunya isu bipartisan saat ini adalah kritik terhadap Israel,” kata Michael Oren.
“Ini menjadi prinsip pengorganisasian bagi Partai Demokrat, dan mulai menjadi prinsip pengorganisasian bagi sebagian besar Partai Republik. Kita berada di akhir sebuah era,” tegas Oren.
Mantan Pemimpin Redaksi Jerusalem Post Yaakov Katz turut mengingatkan potensi pembekuan kerja sama pertahanan.
“Apa yang diumumkan Trump tentang bantuan militer kemarin hanyalah puncak gunung es dari apa yang bisa berubah. Penjualan senjata bisa diblokir, sanksi akan diusulkan, dan program ekonomi bersama dihentikan dananya,” tulis Yaakov Katz di platform X.
Bahkan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu kini menghadapi krisis kepemimpinan domestik pascakehilangan mayoritas suara parlemen.
Kalkulasi Kyiv Menghadapi Tekanan Washington dan Moskow
Pemerintah Ukraina memilih bersikap tenang menghadapi dinamika politik Amerika Serikat. Presiden Volodymyr Zelensky telah mengantisipasi pembekuan bantuan senjata sejak beberapa bulan lalu. Deputi Kantor Kepresidenan Ukraina Sergiy Kyslytsia menegaskan komitmen menjaga pasokan alutsista.
“Ukraina akan terus mengembangkan hubungan yang sejati, normal, dan stabil dengan siapa pun yang menjabat,” ujar Sergiy Kyslytsia saat mengomentari upaya pengadaan amunisi pencegat rudal Patriot di tengah transisi Kongres baru.
Kekalahan politik Trump memberi ruang bernapas bagi Kyiv dari paksaan konsesi wilayah. Namun, Presiden Rusia Vladimir Putin berpotensi meningkatkan gempuran militer sebelum transisi kepemimpinan AS tiba. Dengan demikian, seluruh aktor konflik kini merancang ulang kalkulasi strategis mereka.




