URBANCITY.CO.ID – Generasi muda perkotaan menuntut metode perkuliahan yang adaptif, interaktif, dan terhubung langsung dengan kemajuan teknologi mutakhir.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) menjawab ekspektasi tersebut lewat peluncuran Program Pendanaan Saintek Riset Pembelajaran Transformatif (SATRIA) Tahun 2026–2027 pada Selasa (3/11).
Inisiatif strategis ini menyuntikkan modal riset segar bagi para dosen agar dapat mengubah ruang kuliah konvensional menjadi laboratorium pencetak talenta berdaya saing global.
Suntikan Dana Abadi LPDP Dongkrak Kualitas Belajar Mahasiswa
Baca Juga: Wamendiktisaintek Fauzan Dorong Tata Kelola Kampus Cetak Karier Profesional Urban
Direktorat Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif (SSPT) Ditjen Saintek mengarahkan program ini untuk merevolusi pengalaman belajar mahasiswa di ruang kelas secara empiris.
Pemerintah menyadari bahwa modernisasi fasilitas dan kurikulum semata belum cukup tanpa pembaruan mendasar pada metodologi interaksi dosen dan mahasiswa.
“Program ini dirancang untuk memberikan kesempatan kepada para dosen dalam mengembangkan dan mengimplementasikan model pembelajaran transformatif melalui kegiatan riset yang sistematis, terukur, dan berbasis bukti empiris,” ujar Direktur SSPT Ardi Findyartini.
Langkah ini memberi keuntungan langsung bagi mahasiswa perkotaan yang menginginkan perkuliahan aplikatif berbasis pemecahan masalah riil.
Baca Juga: Investasi Talenta Global: Mendiktisaintek dan UGM Pacu Kualitas Pendidikan Modern




