URBANCITY.CO.ID – Masyarakat perkotaan modern menuntut perguruan tinggi memberikan imbal hasil nyata atas modal finansial dan waktu yang dihabiskan generasi muda di bangku kuliah.
Fenomena 1,03 juta sarjana menganggur per Mei 2026 versi Badan Pusat Statistik (BPS) menjadi sinyal darurat bagi keluarga mapan yang menginginkan jaminan karier berdaya saing tinggi.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan menginstruksikan perombakan tata kelola kampus agar kurikulum perkuliahan selaras langsung dengan peta kebutuhan korporasi modern dan industri perkotaan.
Urgensi Tata Kelola Transformatif Demi Keberlangsungan Kampus
Bca Juga: BNI Gandeng IKA ITS Dukung Kemajuan Pendidikan Tinggi di Indonesia
Wamendiktisaintek Fauzan membongkar kelemahan tata kelola perguruan tinggi yang membiarkan kesenjangan kompetensi lulusan di hadapan civitas akademika Universitas Negeri Jakarta (UNJ) pada Rabu (4/11).
Kampus modern harus mengelola sistem pendidikannya secara lincah dan akuntabel guna memastikan setiap lulusan memiliki keterampilan teknis yang langsung terserap pasar kerja elit.
“Tata kelola itu adalah satu fondasi. Fondasi untuk keberlangsungan institusi, fondasi untuk kesehatan institusi, dan fondasi untuk kemajuan institusi,” tegas Wamen Fauzan.
Keluaran inovasi Indonesia yang masih tertinggal dalam Global Innovation Index (GII) 2025 WIPO menuntut kampus memfokuskan pendanaan riset pada sektor yang bernilai komersial tinggi.
Baca Juga: Investasi Mutu Pendidikan: Mendikdasmen Tinjau TKA di SMAN 3 Tangerang




