URBANCITY.CO.ID – Masyarakat perkotaan modern kian meminati wisata sejarah naratif dan literasi budaya autentik sebagai bagian dari gaya hidup cerdas (intellectual leisure).
Kongres ke-23 Asosiasi Prasejarah Indo-Pasifik (IPPA) di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta membuka peluang investasi baru pada sektor riset, kurasi museum, dan pariwisata berbasis ilmu pengetahuan.
Kementerian Kebudayaan memanfaatkan panggung ilmiah global ini untuk merebut kembali hegemoni sejarah evolusi peradaban maritim yang selama ini terpinggirkan oleh sudut pandang daratan-sentris.
Peluang Investasi Riset Global dan Narasi Kepulauan Nusantara
Baca Juga: Bidik Pasar Australia, Kemenpar Pacu Wisata Edukasi Jakarta
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon mengajak 850 ilmuwan dari 60 negara membongkar narasi lama yang memosisikan kepulauan Nusantara sekadar penerima pasif pengaruh peradaban asing.
Riset mutakhir membuktikan manusia purba di wilayah kepulauan Indonesia telah mengembangkan teknologi navigasi bahari dan seni simbolik jauh lebih maju dibanding perkiraan awal.
“Kita membutuhkan pemahaman sejarah manusia yang lebih luas dan inklusif, yang mengakui pentingnya lingkungan maritim, masyarakat kepulauan, pengetahuan lokal, serta keberagaman pengalaman manusia. Hal ini juga menuntut kelanjutan dekolonisasi pengetahuan dengan meninjau kembali asumsi-asumsi yang diwariskan dan memperluas partisipasi ilmiah,” tegas Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Tiga temuan spektakuler memperkuat valuasi riset prasejarah Indonesia: lukisan naratif Leang Karampuang berumur 51.200 tahun, fosil hominin Situs Calio berusia 1,04 hingga 1,48 juta tahun, serta cap tangan tertua dunia di Liang Metanduno Muna berumur 67.800 tahun. Data ilmiah empiris ini memicu diskursus akademis segar mengenai rute migrasi purba di jalur Pasifik.




