Otoritas DEN tidak hanya bertumpu pada indikator makroekonomi dasar dalam menyusun peta risiko nasional.
Firman memaparkan bahwa tingkat kesehatan neraca keuangan korporasi dalam negeri ikut mempertegas status aman Indonesia dari jerat resesi.
Perusahaan-perusahaan di Indonesia saat ini memegang porsi utang dalam denominasi dolar AS yang jauh lebih kerdil dan terkendali jika membandingkannya dengan kondisi fatal menjelang kejatuhan ekonomi pada 1998 silam.
Data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) besutan Bank Indonesia (BI) mengonfirmasi tren penyusutan beban utang luar negeri sektor swasta tersebut.
Posisi utang luar negeri korporasi swasta melorot 1,8 persen secara tahunan menjadi USD 191,4 miliar pada triwulan I 2026.
Rapor ini membuktikan bahwa para pelaku usaha di Indonesia kian cakap dalam menjinakkan risiko eksternal, terutama dari ancaman fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
“Jadi di tengah ketidakpastian yang terjadi, mereka (perusahaan) mestinya cukup bisa mitigasi,” kata Firman melanjutkan penjelasannya.
Memasang Kuda-Kuda Menghadapi Lonjakan Harga Energi
DEN tetap meminta seluruh jajaran kementerian untuk tidak mengendurkan kewaspadaan terhadap rambatan ketidakpastian global.
Firman melihat konflik geopolitik di berbagai belahan dunia berpotensi menguras stamina ekonomi dunia dalam durasi yang jauh lebih lama dari prediksi awal tim analis.




