<strong>URBANCITY.CO.ID</strong> - Bank Indonesia (BI) memperluas cakupan sektor usaha yang bisa menikmati Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM). BI melansir KLM untuk menhttps://urbancity.co.id/wp-content/uploads/2019/10/Post-1.pngg peningkatan penyaluran kredit/pembiayaan gune menhttps://urbancity.co.id/wp-content/uploads/2019/10/Post-1.pngg pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Insentif b berupa tambahan likuiditas bagi perbankan yang rajin menyalurkan kredit ke sektor usaha yang tercakup dalam KLM. Saat dilansir tahun lalu, KLM mencakup sektor usaha hilirisasi mineral dan batu bara (minerba), non-minerba, perumahan, pariwisata, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM), ultra mikro (UMi), dan keuangan hijau. Namun, menyusul kenaikan BI rate pekan lalu, insentif itu diperluas hingga sektor penunjang hilirisasi, konstruksi dan real estate produktif, ekonomi kreatif, otomotif, perdagangan, Listrik-Gas-Air Bersih (LGA), dan jasa sosial. Kebijakan perluasan berlaku mulai 1 Juni 2024. Penyesuaian besaran insentif untuk setiap sektor sudah ditentukan. Mengutip keterangan tertulis Hasil Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KKSK) II kemarin, penguatan atau perluasan KLM diarahkan dapat segera memberikan tambahan likuiditas perbankan sebesar Rp81 triliun sehingga total insentif menjadi Rp246 triliun. Selanjutnya, sejalan dengan pertumbuhan kredit yang terus meningkat, tambahan likuiditas dari KLM diprakirakan dapat mencapai Rp115 triliun akhir tahun ini, sehingga total insentif yang diberikan menjadi Rp280 triliun. "BI akan terus memperkuat efektivitas implementasi kebijakan makroprudensial akomodatif tersebut, melalui sinergi kebijakan dengan pemerintah, KSSK, perbankan, serta pelaku dunia usaha, agar dapat mendukung peningkatan pembiayaan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tulis keterangan resmi itu.<!--nextpage--> Sebelumnya dalam konferensi pers usai rapat Dewan Gubernur BI pekan lalu dijelaskan, perluasan insentif KLM dilakukan sebagai upaya BI mempertahankan tren penyaluran kredit yang tumbuh tinggi pada Maret 2024 sebesar 12,4%. BI menginginkan momentum pertumbuhan kredit itu tetap terjaga dari gejolak ekonomi global, demi menjaga kestabilan dan kelangsungan pertumbuhan ekonomi (pro stability dan pro growth) Baca juga: <a href="https://urbancity.co.id/bank-indonesia-naikkan-bunga-acuan-bi-rate-jadi-625/">Bank Indonesia Naikkan Bunga Acuan BI Rate Jadi 6,25%</a> Selain itu, perluasan KLM juga sebagai respon terhadap kecenderungan perbankan yang mulai aktif mengucurkan kredit ke sektor-sektor yang baru tercakup dalam insentif KLM itu, demi memastikan kucuran kredit di arahkan ke sektor usaha yang signifikan mendukung pertumbuhan ekonomi. Adapun rincian insentif KLM itu adalah sebagai berikut: 1. Insentif atas kredit atau pembiayaan ke sektor hilirisasi paling tinggi sebesar 0,8%, di antaranya industri hilirisasi minerba sebanyak 16 industri, dan sektor hilirisasi non minerba 16 industri. 2. Insentif untuk sektor perumahan paling tinggi sebesar 0,4% terhadap sektor perumahan yang termasuk perumahan rakyat yang terdiri dari 5 sektor. 3. Insentif untuk sektor pariwisata dan ekonomi kreatif paling tinggi sebesar 0,5% yang diberikan terhadap 16 sektor. 4. Insentif untuk sektor otomotif, perdagangan, LGA dan jasa sosial paling tinggi 0,5% terhadap 8 sektor. 5. Insentif untuk penyaluran kredit atau pembiayaan inklusif termasuk kredit usaha rakyat atau KUR paling tinggi sebesar 1%. 6. Insentif untuk penyaluran kredit atau pembiayaan ultra mikro sebesar 0,3%. 7. Insentif untuk penyaluran kredit atau pembiayaan hijau sebesar 0,5%<!--nextpage--> <strong>Dapatkan Informasi Menarik Lainnya di <a href="https://news.google.com/publications/CAAqBwgKMNO7qgww4Lu3BA?ceid=ID:id&oc=3">GOOGLE NEWS</a></strong>