“Kolaborasi antar entitas di lingkungan Pertamina Group menjadi kunci dalam memastikan sumber daya energi dikelola secara maksimal dan berkelanjutan,” ujar Hermansyah.
Baca Juga: Kejar Produksi Migas, PHE Obral Data 62 Blok ke Puluhan Raksasa Energi
Menopang Kelistrikan Kawasan Industri Raksasa
Selain memperkuat lini produksi hulu migas sendiri, PHE juga melebarkan manfaat gas buminya untuk menggerakkan roda ekonomi di sektor manufaktur. Hal ini dibuktikan melalui kesepakatan kedua, yakni kontrak pasokan gas dengan PT Cikarang Listrindo.
Dalam perjanjian ini, Pertamina EP siap mengalirkan gas bumi sebesar 6,18 MMSCFD yang bersumber dari struktur Akasia Bagus.
Pasokan gas tersebut akan menjadi bahan bakar utama bagi fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) milik Cikarang Listrindo yang beroperasi di dua kawasan industri raksasa Jawa Barat, yaitu Jababeka dan MM2100.
Langkah ini dinilai sangat strategis. Pasalnya, kepastian suplai gas ke pembangkit listrik swasta tersebut akan menjamin keandalan dan stabilitas listrik yang sangat dibutuhkan oleh ratusan pabrik serta aktivitas manufaktur di kawasan Cikarang.
Baca Juga: Kubur 2,9 Gigaton CO2, PHE-ExxonMobil Sulap Asri Basin Jadi Pusat Karbon Terbesar
Lewat dua gebrakan kerja sama di ajang IPA Convex 2026 ini, PHE kembali menegaskan posisinya sebagai penopang utama kedaulatan energi nasional.
Pengelolaan gas bumi yang terukur ini membuktikan bahwa energi yang diproduksi dari perut bumi Indonesia berhasil didistribusikan secara adil, baik untuk meningkatkan hasil lifting migas negara maupun menjaga urat nadi perekonomian industri nasional. (*)




