Modal finansial yang kuat ini membuat seluruh lini produksi berjalan mulus sesuai target. Pabrik pengolahan pirometalurgi lewat jalur RKEF serta fasilitas hidrometalurgi melalui jalur HPAL terpantau terus ngebut memproduksi MHP dan nikel sulfat berkualitas tinggi sebagai bahan baku utama baterai kendaraan listrik.
Baca Juga: Kejar Target NZE 2060, Pertamina Racik Minyak Jelantah Hingga Amonia Hijau
Tak hanya urusan kapasitas produksi, Harita Nickel juga secara bertahap mulai menyuntikkan napas ramah lingkungan ke dalam jantung operasionalnya.
Langkah konkret ini diwujudkan lewat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 40 MWp serta pemanfaatan kembali panas buang (waste heat recovery) dari fasilitas HPAL sebesar 50 MWp. Seluruh manajemen daya tersebut kini dikontrol ketat lewat Energy Management System berbasis ISO:50001.
Kejar Target Emisi dan Standar ESG Dunia
Keseriusan Harita Nickel dalam menerapkan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) juga dibuktikan dengan keikutsertaan mereka dalam audit ketat skala internasional.
Saat ini, perseroan telah memasuki tahapan corrective action dalam proses evaluasi kinerja berdasarkan standar The Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA), sekaligus bersiap menghadapi audit Supply Chain Due Diligence Plus (SCDDP).
Baca Juga: Pacu Elektrifikasi Ramah Lingkungan, PLN Unit Jawa Bagian Tengah Kebut Proyek Hijau
Komitmen hijau ini pun langsung membuahkan hasil manis. Sepanjang Kuartal I 2026, Harita Nickel mencatatkan prestasi memukau dengan berhasil menghindari emisi karbon sebesar 977.278 ton CO2e—sebuah lompatan besar hingga 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.




