URBANCITY.CO.ID – PT Pertamina (Persero) tancap gas mengorkestrasi transisi energi massal di tiga matra transportasi nasional: darat, laut, dan udara.
Langkah agresif ini diambil sebagai komitmen konkret korporasi dalam menyokong target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada tahun 2060.
Strategi dekarbonisasi hulu-hilir tersebut dibedah dalam forum Studium Generale Sustainability yang digelar Universitas Pertamina di Jakarta.
Ajang ini mempertemukan para akademisi global dengan pelaku industri untuk menelurkan solusi taktis bagi pembangunan rendah karbon di dalam negeri.
Baca Juga: Harkitnas 2026, Pertamina Genjot Pengelolaan Risiko demi Kemandirian Energi
“Seluruh upaya ini kami arahkan untuk mendukung pencapaian target Net Zero Emission Indonesia pada tahun 2060, sebagaimana menjadi komitmen kuat Pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto,” tegas Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, dikutip Sabtu (23/5/2026).
Siasat Tiga Matra: Pabrik Bioetanol Hingga Panel Surya Kapal
Di sektor darat, Pertamina mempercepat penetrasi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) lewat pembangunan stasiun pengisian daya (charging station) dan penukaran baterai bersama Indonesia Battery Corporation (IBC).
Tak hanya itu, raksasa energi ini tengah membangun pabrik bioetanol terintegrasi di Glenmore, Banyuwangi, yang menyerap langsung hasil perkebunan tebu rakyat.
Beralih ke sektor laut, efisiensi bahan bakar dipacu melalui teknologi dual fuel dan penggunaan green ammonia (amonia hijau).




