Baca juga: Cari Ratusan Pelaut Baru, PT PELNI Gelar Rekrutmen Terbuka dan Campus Hiring
Sebagai contoh, pembuatan satu pasang sepatu daur ulang mampu menyerap 227 gram bahan bekas. Siasat ini terbukti sukses memotong emisi karbon hingga 5,244 kilogram CO2-eq dan menghemat air sampai 755,56 liter jika disandingkan dengan metode manufaktur konvensional.
Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PELNI, Anik Hidayati, mengungkapkan bahwa proyek daur ulang ini juga mengusung misi pemberdayaan sosial.
Proses produksi barang sandang tersebut sengaja dilempar ke kelompok pengrajin lokal, di mana 44 persen pekerjanya merupakan kaum perempuan, ibu rumah tangga, dan anggota PKK.
“Karena itu, kami terus mendorong berbagai inisiatif keberlanjutan, mulai dari penghijauan hingga pengelolaan limbah yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus menciptakan nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat,” ujar Anik.
Baca juga: Lewat Program TJSL, PT PELNI Salurkan Hewan Kurban ke Berbagai Pelosok Indonesia
Merajut Sinergi dengan Otoritas Daerah
Agar program ini tidak berumur jagung, PELNI menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di tiap-tiap daerah operasional untuk mengawal perawatan bibit pohon yang telah ditanam.
Kolaborasi dengan birokrasi daerah ini dirancang untuk memicu kesadaran warga sekitar pelabuhan agar lebih aktif menjaga mutu ekosistem pesisir.
Bagi manajemen PELNI, investasi pada kelestarian alam adalah harga mati untuk menjamin keberlanjutan bisnis perusahaan di masa depan.
“Keberlanjutan bukan hanya menjadi komitmen perusahaan, tetapi juga bagian dari tanggung jawab kami kepada generasi mendatang. Melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, kami akan terus menghadirkan program-program yang memberikan dampak positif bagi lingkungan, masyarakat, dan pembangunan nasional secara berkelanjutan,” tutur Anik memungkasi penjelasan. (*)




