URBANCITY.CO.ID – Sebuah rekaman video yang merekam kemunculan hamparan daratan anyar di perairan Selat Sunda mendadak memicu kehebohan di jagat maya. Hamparan daratan tersebut membentang di perairan antara Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Kabupaten Lampung Selatan.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Suwarno, mencatat luasan hamparan daratan anyar tersebut mencapai puluhan hektare. Petugas pos pengamatan memantau pembentukan pulau mini itu setelah rentetan aktivitas letusan kawah berlangsung.
“Ya, itu hasil dari letusan kemarin, luasnya kurang lebih 30,3 hektare. Keberadaan daratan baru itu sudah kami ketahui dan masih masuk dalam pemantauan aktivitas rutin di sekitar tubuh Gunung Anak Krakatau dan Pulau Sertung,” ujarnya.
Fenomena geologis ini lantas memantik kebingungan sekaligus spekulasi publik. Sejumlah warganet menduga kemunculan daratan tersebut sebagai tanda kelahiran gunung api mandiri bernama “Cucu Krakatau”.
Baca Juga :Â Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau Menjauh ke Samudera Hindia, Bandara Aman
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) Daryono membantah spekulasi keliru tersebut. Ia menegaskan bahwa gundukan yang menyembul ke permukaan laut itu bukan entitas vulkanik mandiri.
“Faktanya, daratan ini bukanlah gunung api independen, melainkan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan, dan lava hasil erupsi Gunung Anak Krakatau yang mengendap di laut,” ujarnya.
Daryono memaparkan bahwa penumpukan material padat berlangsung secara bertahap seiring ritme erupsi kawah utama. Lontaran erupsi menimbun sedimen secara terus-menerus hingga akhirnya material vulkanik menyembul melampaui muka air dan membentuk daratan baru Anak Krakatau.




