Dinamika Arus dan Penumpukan Sedimen Selat Sunda
Kombinasi faktor oseanografi dan tatanan geologi dasar laut mendorong terbentuknya daratan anyar di antara Anak Krakatau dan Pulau Sertung. Kaldera purba warisan letusan dahsyat Krakatau 1883 memiliki dasar laut yang relatif dangkal, sehingga memudahkan material piroklastik menumpuk hingga memunculkan daratan.
Selain itu, lontaran letusan dan lelehan lava condong mengarah ke kawasan perairan tersebut. Dinamika arus laut Selat Sunda turut mengalirkan sedimen ringan menuju perairan yang tenang, sehingga mempercepat akumulasi batuan.
Daryono menyatakan bahwa masa depan hamparan sedimen ini sangat bergantung pada interaksi alam selanjutnya. Hempasan gelombang laut berpotensi menyapu pasir endapan yang masih rapuh apabila kawah berhenti memasok material erupsi.
“Apakah daratan ini bisa membesar atau justru lenyap kembali? Jawabannya sangat bergantung pada pertarungan antara aktivitas vulkanik dan erosi alam,” kata Daryono.
Stabilitas daratan berpeluang bertahan lebih kokoh apabila lelehan lava cair menyelimuti sedimen lalu membeku menjadi hamparan batu cadas. “Jika Gunung Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pasokan material baru akan membuat daratan tersebut makin meluas. Ketahanannya akan makin kokoh apabila terlapisi lava cair yang membeku menjadi batuan keras,” tambahnya.
Sebaliknya, longsoran bawah laut serta letusan eksplosif berskala besar tetap berpeluang meruntuhkan struktur daratan muda tersebut secara mendadak.
Kriteria Ilmiah Pembentukan Gunung Api Baru
Daryono menguraikan setidaknya tiga parameter geologis yang wajib terpenuhi sebelum para pakar mengakui suatu daratan sebagai gunung api mandiri:




