Selain devisa, program B50 menciptakan nilai tambah minyak kelapa sawit mentah (CPO) sebesar Rp24,68 triliun. Program ini menyerap 2,21 juta tenaga kerja serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton.
“Kenapa mendukung pertumbuhan ekonomi? Karena implementasi B50 ini juga akan meningkatkan nilai tambah untuk sawit kita. Sehingga, manfaat secara ekonominya akan lebih banyak dirasakan oleh petani sawit kita,” jelas dia.
Kesiapan Teknis Pemerintah
Dwi menegaskan bahwa kebijakan B50 sangat relevan di tengah fluktuasi harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik global.
Pemerintah terus mempercepat transisi energi berkelanjutan sebagai solusi energi jangka panjang.
“Jadi inilah faktor utama sebenarnya kenapa akhirnya 1 Juli ini nanti (B50) diimplementasikan,” jelasnya.
Saat ini, pemerintah tengah merampungkan serangkaian uji coba teknis yang berlangsung sejak akhir tahun lalu.
Baca juga:Â Harga BBM Nonsubsidi Pertamina Melonjak Per 4 Mei, Dexlite Tembus Rp26.000
Pihak terkait menargetkan penyelesaian uji teknis sektor otomotif pada Juni 2026, sementara mereka akan mengakhiri pengujian untuk alat pertambangan dan pertanian pada Semester II 2026.
Pemerintah tetap memastikan implementasi kebijakan akan berjalan serentak meskipun beberapa tahap uji teknis di sektor lain masih berlanjut.
“Walaupun di beberapa sektor tahap uji teknisnya masih berjalan, tapi kami memastikan bahwa Implementasi ini akan dilakukan serentak,” pungkas dia. (*)




