<!--StartFragment --> <p class="pf0"><span class="cf0"><strong>URBANCTY.CO.ID</strong> - Di tengah hiruk-pikuk ekonomi Indonesia, industri asuransi sepertinya sedang bersiap-siap untuk lepas landas. Dengan tingkat penetrasi yang masih tertinggal dibanding negara-negara ASEAN lainnya, para ahli yakin pertumbuhan sektor ini akan melesat tinggi dalam beberapa tahun ke depan. </span></p> <p class="pf0"><span class="cf0">Ini bukan sekadar ramalan, tapi didasari fakta yang terungkap dalam sebuah acara literasi keuangan di Bandung, Jawa Barat, pada Sabtu, 6 Desember 2025.</span></p> <p class="pf0"><span class="cf0">Kegiatan Literasi Keuangan dan Berasuransi yang diselenggarakan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu menjadi panggung bagi Ferdinan D. Purba, Anggota Dewan Komisioner Bidang Program Penjaminan Polis LPS, untuk berbagi visi. </span></p> <p class="pf0"><span class="cf0">Ia meyakini ruang pertumbuhan industri ini sangat lebar, terutama dengan hadirnya Program Penjaminan Polis (PPP) yang akan segera diluncurkan LPS.</span></p> <p class="pf0"><span class="cf0">"Program itu bakal menjadi titik balik untuk mendorong kembali kepercayaan masyarakat serta mempercepat pertumbuhan premi asuransi nasional," ucapnya saat pemaparan.</span></p> <strong>Baca Juga: <a href="https://urbancity.co.id/ojk-ajak-mahasiswa-purwokerto-siapkan-masa-depan-dengan-asuransi-syariah/">OJK Ajak Mahasiswa Purwokerto Siapkan Masa Depan dengan Asuransi Syariah</a></strong> <p class="pf0"><span class="cf0">Purba menjelaskan bahwa program ini akan bertindak sebagai katalis utama. Ia mengacu pada pengalaman LPS di sektor perbankan, di mana penjaminan simpanan berhasil membangun kepercayaan publik dan mendorong pertumbuhan dana pihak ketiga.</span></p> <p class="pf0"><span class="cf0">“Berdasarkan pengalaman LPS selama ini, kepercayaan publik meningkat setelah ada penjaminan. Dampaknya, dana pihak ketiga perbankan tumbuh lebih cepat,” ujarnya.</span></p> <p class="pf0"><span class="cf0">Sebelum LPS beroperasi, pertumbuhan dana itu hanya 7,7 persen, tapi setelah penjaminan, melonjak ke 15,3 persen. Pola serupa terlihat di Malaysia, di mana premi asuransi naik dari rata-rata 5,5 persen menjadi 9,7 persen pasca-program penjaminan polis.</span></p> <p class="pf0"><span class="cf0">“Melihat negara lain, kami yakin PPP akan mengangkat kepercayaan publik dan mendorong pertumbuhan premi asuransi di Indonesia,” tambahnya.</span></p> <strong>Baca Juga: <a href="https://urbancity.co.id/bank-muamalat-tawarkan-one-stop-service-asuransi-jiwa/">Bank Muamalat Tawarkan One Stop Service Asuransi Jiwa</a></strong><!--nextpage--> <strong>Jadi Motor Pertumbuhan Baru</strong> <p class="pf0"><span class="cf0">Suwandi, Direktur Eksekutif Surveilans, Data, dan Pemeriksaan Asuransi LPS, menambahkan bahwa penetrasi rendah ini bukan tanpa alasan. Ia menyoroti rentetan skandal yang melanda industri asuransi sejak 2016 hingga 2025, dengan 19 perusahaan dicabut izin oleh OJK.</span></p> <p class="pf0"><span class="cf0">“Sejak 2016 hingga 2025 sudah ada 19 perusahaan asuransi yang dicabut izin usahanya oleh OJK. Kasus-kasus ini jelas menekan kepercayaan publik,” kata Suwandi.</span></p> <p class="pf0"><span class="cf0">Kasus besar seperti Jiwasraya, AJB Bumiputera 1912, Wanaartha Life, Kresna Life, dan Berdikari Insurance yang tutup pada Januari 2025 karena masalah solvabilitas dan gagal bayar, telah mencoreng citra industri. Tapi Suwandi melihat sisi positifnya: penetrasi rendah justru membuka ruang ekspansi besar.</span></p> <p class="pf0"><span class="cf0">“Indonesia masih punya ruang yang sangat besar untuk tumbuh. Dengan penjaminan polis, kepercayaan publik akan pulih sehingga lebih banyak masyarakat mau membeli produk asuransi,” jelasnya.</span></p> <p class="pf0"><span class="cf0">Dengan PPP, reformasi tata kelola, dan literasi yang meningkat, para pihak optimis pertumbuhan akan melaju cepat mulai 2027</span><span class="cf1">–2030.</span></p> <strong>Baca Juga: <a href="https://urbancity.co.id/riset-fwd-insurance-dan-kadence-international-ungkap-93-nasabah-prioritaskan-stabilitas-keuangan-dan-loyalitas-asuransi/">Riset FWD Insurance dan Kadence International Ungkap 93% Nasabah Prioritaskan Stabilitas Keuangan dan Loyalitas Asuransi</a></strong> <p class="pf0"><span class="cf1">LPS menyiapkan tiga bentuk penjaminan: jaminan klaim polis, pengalihan portofolio ke perusahaan sehat, dan pengembalian polis hingga batas Rp500 juta–Rp700 juta, yang mencakup 90 persen nilai polis rata-rata di Indonesia.</span></p> <p class="pf0"><span class="cf1">Program ini akan diformalkan lewat Peraturan Pemerintah, target berlaku 2028, tapi LPS siap jika dipercepat ke 2027.</span> <span class="cf1">“Jika dipercepat tahun 2027, LPS siap,” tegas Purba.</span></p> <p class="pf0"><span class="cf1">Meski potensi besar, realitasnya masih jauh. Penetrasi asuransi Indonesia hingga akhir 2024 hanya 1,40 persen, stagnan selama dua dekade. </span></p> <span class="cf1">Angka ini kalah dari Filipina (1,80 persen), Malaysia (3,80 persen), Thailand (5,10 persen), dan Singapura (7,40 persen). Negara maju bahkan rata-rata 9–10 persen. Dengan PPP, cerita baru industri asuransi Indonesia sepertinya baru saja dimulai.</span><span class="cf0"> (*)</span><!--nextpage--> <!--EndFragment -->