Menurut pelatih asal Turki tersebut, kerapuhan dalam menerima servis lawan membuat skema serangan yang telah dirancang tidak berjalan maksimal.
“Kami kurang stabil di penerimaan servis sehingga tidak selalu bisa menjalankan strategi offense sesuai rencana. Ini menjadi catatan penting. Final Four adalah fase yang berbeda, lebih kompetitif. Untuk itu, kami harus meningkatkan kualitas eksekusi dan konsistensi di setiap sesi,” tegas Bülent.
Dengan berakhirnya babak reguler, fokus tim kini sepenuhnya beralih ke persiapan fisik dan mental. Target JPE selanjutnya kian jelas: menembus partai puncak Grand Final Proliga 2026.
Baca Juga: Proliga 2026: Libas Pertamina Enduro 3-0, Gresik Petrokimia Juara Putaran 2 Fase Reguler
Energi untuk Olahraga Nasional
Di sisi lain, Pertamina memandang keterlibatan JPE di kancah bola voli nasional bukan sekadar urusan prestasi, melainkan bagian dari misi membangun ekosistem olahraga yang sehat di Indonesia.
Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menyebut dukungan perusahaan merupakan wujud komitmen dalam memberikan energi positif bagi masyarakat melalui jalur profesionalisme olahraga.
“Pertamina turut mendukung kemajuan olahraga nasional. Dukungan ini juga bagian wujud peran Pertamina dalam memberikan energi masyarakat, menciptakan ekosistem olahraga yang profesional, kompetitif, dan berkelanjutan,” pungkas Baron.
Bedah Kekuatan Jakarta Pertamina Enduro (JPE)
1. Anatomi Lini Serang: The Triple Threat
JPE memiliki daya gedor paling menakutkan di atas kertas. Kekuatan mereka terletak pada distribusi beban serangan yang merata:






