URBANCITY.CO.ID – Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) berupaya memperkuat kapasitas arsitek nasional dalam menghadapi ancaman multi-bencana di Indonesia.
Melalui Architecture Acceleration Workshop (AAW), pemerintah mendorong transformasi praktik arsitektur agar tidak sekadar estetik, namun juga adaptif, berbasis teknologi, dan memiliki ketahanan tinggi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3) International Conference on Natural & Human Disasters 2026.
Forum internasional yang diinisiasi oleh International Union of Architects (UIA) ini untuk pertama kalinya diselenggarakan di Indonesia, dengan Aceh sebagai tuan rumah.
Baca Juga: Kementerian Ekraf dan Kemendikdasmen Garap Modul SMK, Targetkan Serap 27 Juta Pekerja Kreatif
Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekraf, Yuke Sri Rahayu, menegaskan bahwa aspek ketangguhan (resilience) harus mendarah daging dalam ekosistem arsitektur nasional.
Resilience bukan hanya konsep desain, tetapi harus menjadi kerangka kebijakan, kerangka bisnis, dan kerangka praktik profesional.
“Ke depan, kami membutuhkan arsitek yang tidak hanya responsif terhadap bencana, tetapi mampu mengantisipasi, merancang sistem, dan menciptakan nilai ekonomi dari solusi ketahanan itu sendiri,” ujar Yuke pada Sabtu, 18 April 2026.
Arsitektur Sebagai Solusi Strategis
Workshop ini diikuti oleh sekitar 100 pemangku kepentingan di bidang arsitektur. Pembahasan dibagi ke dalam dua perspektif besar: praktik lokal di Indonesia (Local Perspectives) dan kolaborasi lintas batas (Global Perspectives).




