Baca Juga: Dwicitra Land Perkenalkan East Ginza, Klaster Hunian Modern Bergaya Arsitektur Jepang
Melalui pembagian ini, para arsitek lokal diharapkan dapat menyerap keahlian global sembari tetap mempertahankan kearifan lokal dalam mitigasi bencana.
Yuke berharap forum ini memicu lahirnya standar baru dalam pembangunan nasional maupun regional. Menurutnya, arsitektur harus dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk meminimalkan dampak kerugian saat bencana melanda.
“Workshop ini harus menjadi titik awal untuk melahirkan pendekatan baru di mana arsitektur menjadi bagian dari solusi strategis pembangunan nasional dan regional. Akhirnya, saya mengapresiasi seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan ini,” tambah Yuke.
Kolaborasi Global di Tanah Rencong
Kehadiran Direktur Arsitektur dan Desain, Sabar Norma Megawati Panjaitan, dalam forum ini mempertegas komitmen pemerintah untuk mengawal regulasi desain yang lebih ketat terkait keamanan bangunan.
Baca Juga: Darmawangsa Residence Rilis Hunian Mewah Bergaya Arsitektur Negeri Sakura
Indonesia, yang berada di wilayah Ring of Fire, dinilai mendesak untuk memiliki basis data dan inovasi arsitektur yang mampu memitigasi dampak gempa, tsunami, hingga banjir.
Melalui inisiatif AAW di DR3 Aceh 2026, para arsitek didorong untuk memposisikan ketangguhan sebagai fondasi praktik profesional yang bertanggung jawab.
Dengan kolaborasi lintas negara di kawasan ASEAN dan global, arsitektur Indonesia diharapkan siap menghadapi tantangan krisis iklim dan kebencanaan di masa depan. (*)






