Peneliti menanamkan sejumlah perangkat canggih seperti sensor ultrasonik, kamera pemindai objek, pemancar GPS, hingga sistem kecerdasan buatan.
Baca juga: Intip Siasat Pertamina Jinakkan AI demi Efisiensi Pasokan BBM dari Hulu ke Hilir
Rangkaian peranti ini membuat kapal mampu membedakan antara batuan laut dengan sampah plastik, lalu merekam volume tangkapan secara real-time.
Robot penangkap sampah ini mengandalkan motor listrik hibrida yang menyerap pasokan energi bersih dari hamparan panel surya di bagian atapnya.
Hebatnya lagi, kapal ini menggendong mesin pencacah plastik otomatis di bagian tengah dek serta katrol elektrik berkapasitas 500 kilogram untuk mempermudah proses evakuasi muatan ke darat.
“Ke depan, program ini diharapkan menjadi model pengelolaan sampah perairan berbasis teknologi yang dapat direplikasi di berbagai wilayah operasi Pertamina yang berdekatan di wilayah peisisir di seluruh Indonesia,” pungkas Iriawan.
Manajemen kini tengah memetakan sepuluh pelabuhan dan terminal bahan bakar minyak potensial untuk penempatan unit kapal generasi berikutnya.
Daftar wilayah tersebut mencakup kawasan perairan Integrated Terminal Cilacap, Balongan, Maos, Ternate, Wayame, Parepare, Masohi, hingga kawasan wisata premium Labuan Bajo. (*)




