Baca juga:Â Minyak Dunia Melonjak, Pertamina Patra Niaga Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp16.250
Wisatawan datang ke Bali utamanya karena daya tarik pantai, jika pantai penuh sampah, maka daya tarik berubah jadi jijik.
“Selain itu juga dampaknya terasa oleh para nelayan yang hasil tangkapannya menurun akibat rusaknya ekosistem laut,” ujar purnawirawan jenderal polisi itu.
Membakar Baling-Baling Kapal dan Menyumbat Mesin Pendingin
Mochamad Iriawan menambahkan bahwa serbuan sampah apung juga memicu kerugian finansial yang besar bagi kelancaran bisnis hulu-hilir Pertamina.
Limbah kemasan produk kerap tersangkut pada kipas penggerak kapal tanker pengangkut BBM dan menyumbat pipa penyedot air laut yang berfungsi mendinginkan mesin-mesin kilang.
“Bagi industri, termasuk Pertamina, sampah laut juga merupakan risiko operasional, dimana sampah dapat mengganggu baling-baling kapal, menyumbat sistem pendingin peralatan dan mesin-mesin, sehingga berpotensi mengganggu kelancaran distribusi energi,” kata Iwan Bule.
Baca juga:Â Sapu Bersih Praktik Lancung, Bos Pertamina Drilling Pasang Jerat Anti-Fraud di KPI
Guna menguji keandalan sistem navigasi, Pertamina menetapkan kawasan perairan The Patra Bali Resort & Villas serta Aviation Fuel Terminal (AFT) Ngurah Rai sebagai lokasi proyek percontohan.
Tim operasi memasang target ambisius untuk menguras sedikitnya 1 ton sampah pesisir per tahun dari dua titik vital tersebut.
Sementara untuk wilayah operasi Fuel Terminal Kotabaru di Kalimantan, Pertamina memproyeksikan alat serupa mampu melumat hingga 20 ton timbulan sampah pantai setiap tahun.
Mempersenjatai Lambung Katamaran dengan Panel Surya
Tim insinyur ITS merancang Autonomous Trash Skimmer dengan panjang mencapai 8 meter menggunakan model lambung ganda atau katamaran untuk menjaga keseimbangan di atas ombak.




