URBANCITY.CO.ID – Di saat gema takbir bersahut-shutan di daratan, suasana berbeda menyelimuti Zulu Flow Station di lepas pantai utara Jawa Barat.
Tak ada ketupat di meja makan keluarga bagi Andi Nandayani. Tahun ini, operator kilang di Regional 2 Zona 5 Pertamina Hulu Energi (PHE) ONWJ tersebut harus melewatkan Idulfitri 1447 H di atas anjungan besi, jauh dari pelukan suami dan buah hatinya.
Nanda, sapaan akrabnya, merupakan satu-satunya pekerja perempuan di fasilitas tersebut. Bergabung sejak 2025, ini adalah pengalaman pertamanya merayakan Lebaran sebagai garda terdepan migas.
Ada pergulatan batin yang ia rasakan, terutama saat harus memberi pengertian kepada putranya yang baru berusia empat tahun.
Baca Juga: Idul Fitri di Jalur Seismik Morowali: Dedikasi Perwira Elnusa Penjaga Energi Negeri
“Suami sangat mendukung keputusan saya untuk tetap bertugas. Tapi anak saya masih kecil, jadi harus diberi pengertian secara perlahan kenapa ibunya tidak bisa pulang saat Lebaran. Itu yang paling menguras perasaan,” ujar Nanda lirih.
Pengabdian di Balik Deru Mesin
Bagi para “Perwira” Pertamina, sebutan untuk pekerjanya, hari raya bukanlah alasan untuk mengendurkan pengawasan. Di fasilitas Foxtrot Plant, Fanji Rochmat sudah sembilan kali merayakan Lebaran di tengah laut.
Sebagai Senior Supervisor, ia memegang tanggung jawab vital: memastikan aliran produksi dari anjungan sumur hingga ke stasiun pengumpul tetap stabil.
Baginya, kesedihan karena absen di tengah keluarga besar selalu beriringan dengan kebanggaan profesi. “Perasaannya campur aduk. Tentu ada rasa sedih karena tidak bisa berlebaran dengan keluarga besar. Ada juga rasa bangga karena bisa ikut menjaga ketahanan energi nasional,” ungkap ayah dua anak ini.




