Di pasar global, permintaan burung hias asal Indonesia juga menunjukkan tren positif. Pada 2025, nilai ekspor burung hias mencapai Rp12,5 miliar, melonjak tajam sekitar 237,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Budi menekankan pentingnya aspek keberlanjutan dalam industri ini dengan memprioritaskan burung hasil penangkaran ketimbang tangkapan alam.
“(Burung) yang dilombakan bukan burung liar, tapi burung ternak,” ujar Budi menekankan semangat pelestarian lingkungan.
Multiplier Effect bagi UMKM Lokal
Selain kompetisi, festival ini menjadi ajang unjuk gigi bagi UMKM kuliner dan perajin sangkar lokal. Para peserta, seperti Ismanto yang membawa Murai Batu Medan, berharap ajang seperti ini dapat memperluas pasar produk pendukung buatan dalam negeri.
Baca Juga: Kemendag Terbitkan Permendag Ekspor 2026, Hapus Izin ET Timah dan Migas Demi Genjot Investasi
“UMKM bisa makin maju. Orang-orang jadi bisa tahu ada berbagai jenis kandang buatan lokal dari Jepara, Solo, dan sebagainya,” ungkap Ismanto.
Ketua Umum PBI Pusat, Bagiya Rahmadi, menambahkan bahwa perlombaan berfungsi sebagai etalase produk hasil penangkaran. “Lomba burung bisa mengenalkan hasil produk dan dampaknya multiefek,” jelas Bagiya.
Melalui sinergi komunitas hobi dan penguatan UMKM, pemerintah optimistis ekosistem ini dapat terus berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika pasar yang ada. (*)






