Menjinakkan Medan Ekstrem
Menancapkan tiang-tiang besi di punggung Pegunungan Arfak jelas bukan pekerjaan kantoran yang nyaman. General Manager PLN Unit Induk Wilayah Papua dan Papua Barat, Roberth Rumsaur, membeberkan bahwa para petugas di lapangan harus bertaruh dengan jalur logistik yang curam dan cuaca yang tak menentu.
Agar empat distrik tersebut bisa terhubung ke sistem kelistrikan Anggi, PLN harus membentangkan Jaringan Tegangan Menengah (JTM) sepanjang 23,75 kilometer sirkit (kms) serta Jaringan Tegangan Rendah (JTR) sejauh 21,29 kms.
Baca juga:Â Sutet Sumatra Ambruk Diterjang Cuaca Buruk, PLN Pacu Pemulihan 10 Jam
“Proses pembangunan dilakukan di wilayah dengan kondisi geografis yang menantang, namun berkat dukungan masyarakat dan pemerintah daerah, pekerjaan dapat diselesaikan sehingga masyarakat kini dapat menikmati listrik selama 24 jam penuh,” kata Roberth.
Di Jakarta, Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa bagi PLN, menerangi kawasan terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) adalah harga mati demi keadilan sosial.
Setrum, kata Darmawan, adalah roda penggerak utama bagi pendidikan, ekonomi, dan perbaikan hajat hidup di pedalaman.
“Kehadiran listrik 24 jam di Pegunungan Arfak bukan hanya menghadirkan penerangan, tetapi juga membuka peluang bagi pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan kualitas hidup masyarakat,” ujar Darmawan. (*)




