“Ini adalah strategi agar gas kita, tidak kita lakukan impor dari negara mana pun. Gas ini akan kita dorong untuk industri hilirisasi. Yang kedua akan mengurangi impor crude kita,” jelas Bahlil.
Baca Juga: PHE Catat Produksi Migas Stabil, Cadangan Bertambah di 2025
Membangun Hub Produksi Ketiga
Temuan Geliga-1 melengkapi rangkaian kesuksesan ENI sebelumnya di Cekungan Kutei, seperti Geng North (2023) dan Konta-1 (2025).
Lokasi Geliga yang berdekatan dengan temuan Blok Gula (2 Tcf) membuka peluang besar bagi pembentukan hub produksi ketiga di Kutei Basin.
Jika dikombinasikan, Blok Geliga dan Gula total menghasilkan 7 Tcf gas. Integrasi ini memungkinkan penggunaan infrastruktur yang sudah ada secara lebih efisien, termasuk pemanfaatan kilang LNG Bontang.
Strategi ini dipercaya dapat mempercepat waktu komersialisasi (time to market) serta memperpanjang umur operasional fasilitas LNG tertua di Indonesia tersebut.
Baca Juga: Tingkatkan Cadangan Migas, Pertamina EP Tarakan Field Siap Bor Sumur Eksplorasi SBK Deep-001
Kolaborasi Strategis di Blok Ganal
Blok Ganal saat ini dioperasikan oleh ENI dengan kepemilikan saham 82 persen, sementara 18 persen sisanya dipegang oleh Sinopec.
Ke depan, aset strategis ini akan dikelola melalui perusahaan patungan bernama Searah, yang merupakan kolaborasi antara ENI dan Petronas untuk memperkuat dominasi energi di pasar regional.
Dengan penemuan ini, posisi Kalimantan Timur sebagai pusat pertumbuhan energi gas global semakin kokoh. Di tengah transisi energi, cadangan gas raksasa ini menjadi “jembatan” krusial bagi Indonesia menuju kemandirian energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. (*)






