URBANCITY.CO.ID – Keinginan Presiden Joko Widodo (Jokowi) meningkatkan nilai tambah industri sawit bagi petani bukan isapan jempol belaka. Tepat pada Kamis, 14 Maret 2024, Presiden Jokowi meresmikan pabrik minyak makan merah Pagar Merbau, di Deli Serdang, Sumatera Utara.
Selain itu, peresmian pabrik minyak makan merah percontohan tersebut juga merupakan yang pertama di Indonesia sekaligus menandai langkah maju dalam industri kelapa sawit nasional dan pemberdayaan petani.
“Kita ingin nilai tambah itu ada di dalam negeri. Oleh sebab itu, kita bangun pabrik minyak makan merah ini dan ini kita harapkan dapat memberikan nilai tambah yang baik bagi para petani sawit, utamanya yang sudah dalam bentuk koperasi,” ujar Presiden.
Seperti dikutip Jakartadaily.id dari Laman Setkab, Sabtu, 16 Maret 2024, Presiden menegaskan, dengan begitu harga TBS [tandan buah segar] tidak naik dan turun, karena semuanya diolah menjadi barang jadi, yaitu minyak makan merah.
Baca Juga: Presiden Jokowi Dorong Pengembangan Desa Wisata di Sekitar IKN
Indonesia memiliki 5,3 juta hektare kebun kelapa sawit dengan 40,5 persen atau 6,2 juta hektare di antaranya dimiliki oleh petani sawit. Produksi minyak makan merah ini diyakini Presiden dapat meningkatkan daya saing produk petani sawit dalam negeri.
“Harga minyak makan merah ini lebih murah dari minyak goreng yang ada di pasaran. Artinya, barang ini bisa bersaing di pasar, bisa bersaing dan harganya kompetitif,” ujarnya.
Bukan itu saja, kandungan Vitamin A dan Vitamin E dalam minyak makan merah juga terjaga. Hal ini, menjadikan produk ini tidak hanya sehat tetapi juga ekonomis bagi masyarakat.
“Ini sudah dicoba oleh beberapa chef dan mereka menyampaikan, ‘Pak, minyak makan merah ini beda, lebih enak, dan dicek gizinya lebih baik’,” ujar Presiden.
Baca Juga: RSUD Sibuhuan Beroperasi, Presiden Jokowi: Pastikan Pelayanan Optimal
Pabrik dengan kapasitas produksi 10 ton CPO (crude palm oil) per hari ini diharapkan dapat menghasilkan sekitar 7 ton minyak makan merah setiap hari.
Presiden pun mengajak masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri ini sebagai langkah mendukung pemasaran dan konsumsi produk yang berkelanjutan.
“Jadi yang hadir di sini, pakai. Saya nanti mau beli mau nyoba juga. Jadi semuanya kalau beli, artinya pemasarannya tidak usah ke mana-mana,” imbuhnya.
Presiden menekankan, pembukaan pabrik ini juga merupakan bagian dari upaya hilirisasi, yaitu proses peningkatan nilai tambah komoditas melalui pengolahan menjadi produk jadi. “Jangan jual TBS, jangan jual CPO, kalau bisa jadikan barang-barang jadi seperti ini. Ini bagus sekali,” tegas Presiden.
Dapatkan Informasi Menarik Lainnya di GOOGLE NEWS