Plt Kepala Bagian Tanaman Regional III, Zafri Yasser, menyebut penguatan ekosistem serangga bertujuan meningkatkan kualitas pembentukan buah secara alami tanpa intervensi kimiawi yang berlebihan.
“Dengan penyerbukan yang baik, pembentukan buah menjadi lebih sempurna. Ini berdampak langsung pada produktivitas tandan,” tutur Zafri.
Untuk mendukung program ini, perusahaan membangun fasilitas penangkaran bersistem hatch and carry serta menanam tanaman bermanfaat (beneficial plant) sebagai habitat serangga tersebut.
Baca Juga: Miniatur Indonesia di Kebun Sawit: PTPN IV PalmCo Kelola 55 Suku Bangsa demi Ketahanan Energi
Ekonomi Sirkular dan Reduksi Emisi
Di sisi hilir, PalmCo Regional III menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan mengonversi limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) menjadi energi listrik melalui pembangkit biogas di enam unit pabrik.
Pemanfaatan gas metana dari limbah ini diklaim mampu meningkatkan efisiensi energi operasional sekaligus mereduksi emisi gas rumah kaca.
Secara bersamaan, perusahaan juga tetap mempertahankan kawasan hutan lindung di areal konsesi, melakukan restorasi sungai, serta reboisasi di area konservasi.
Pendekatan berbasis agroekosistem ini menjadi jawaban PalmCo atas tuntutan standar lingkungan global terhadap industri sawit nasional.
Dengan mengombinasikan target 17.539 hektare pupuk organik dan 26.553 hektare penyerbukan alami, PalmCo berupaya membuktikan bahwa produktivitas perkebunan negara dapat tetap tumbuh meski berada di bawah pengawasan ketat prinsip keberlanjutan. (*)






