URBANCITY.CO.ID – Ledakan tren perangkat pintar (smart devices), ekosistem mobil listrik (electric vehicle), dan teknologi hunian pintar (smart home) kini membentuk wajah baru gaya hidup perkotaan modern.
Di balik kemudahan mobilitas dan efisiensi energi yang dinikmati masyarakat urban, perputaran modal global membuka ceruk investasi manufaktur yang sangat menggiurkan.
Kementerian Perindustrian bergerak cepat menangkap momentum emas ini dengan memperkuat keterlibatan industri kecil dan menengah (IKM) ke dalam rantai pasok industri elektronika dan kelistrikan nasional.
Langkah strategis tersebut menargetkan integrasi industri lokal di tengah transisi energi dan percepatan digitalisasi perkotaan.
Baca Juga: Kemenperin Buka 11 Ribu Kursi Vokasi Global: Peluang Emas Karier Urban
“Sebagai negara berpenduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia merupakan pasar elektronika konsumen terbesar di ASEAN. Kita juga memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, serta sumber daya kobalt, tembaga, dan timah sebagai bahan baku komponen strategis. Ditambah dengan ekosistem manufaktur yang matang, kawasan industri Jabodetabek–Karawang berpotensi menjadi pusat pengembangan industri komponen elektronika,” kata Menteri Perindustrian (Menperin) Muhammad Sarmuji dalam keterangannya, Jumat (16/10).
Riset McKinsey Global Institute memproyeksikan nilai pasar komponen elektronika dunia akan menembus lebih dari USD 1 triliun pada 2030 mendatang.
Lonjakan konsumsi kendaraan listrik, implementasi kecerdasan buatan (AI), serta perangkat Internet of Things (IoT) memicu pertumbuhan kebutuhan komponen hingga tiga kali lipat dibanding sektor elektronika konvensional.
“Pascapandemi, sejumlah negara dan kawasan ekonomi utama, seperti Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok, semakin memperkuat produksi komponen domestiknya. Indonesia harus mampu mengambil peran aktif dalam transformasi industri global tersebut,” tegas Sarmuji.
Baca Juga: Investasi Talenta Manufaktur: Kemenperin Pacu Produktivitas SDM Urban
IKM domestik saat ini telah memproduksi komponen esensial berdaya saing tinggi, mulai dari printed circuit board assembly (PCBA), wire harness, konektor, copper braid, panel listrik, hingga sistem proteksi daya modern.
Kendati demikian, penetrasi pasar formal dan kepastian kontrak jangka panjang masih menjadi tantangan utama bagi ekspansi para pelaku usaha.
“Di sinilah peran pemerintah tidak hanya terbatas pada pelatihan dan sertifikasi, tetapi juga mempertemukan IKM dengan industri besar serta mendorong terwujudnya kemitraan yang terstruktur, adil, dan berjangka panjang,” ujar Menperin.
Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin merealisasikan komitmen tersebut lewat Forum Diskusi Kemitraan IKM Komponen Elektronika dan Kelistrikan dengan Industri Besar/BUMN pada 12 Oktober 2026.
Baca Juga: Peluang Cuan Ekspor IKM: Kemenperin Pacu Sektor Menengah Naik Kelas ke Pasar Global
“Forum ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, memperkuat sinergi, dan merumuskan langkah konkret dalam pengembangan industri elektronika dan kelistrikan yang memiliki peran penting bagi masa depan industri nasional,” ungkap Sarmuji.
Mengakselerasi Ekosistem Energi Bersih dan Digital Urban
Pertumbuhan jumlah IKM sektor komputer, barang elektronika, dan optik (KBLI 26) melonjak signifikan hingga menyentuh 5.816 unit usaha pada 2025.
Jumlah tersebut melesat hampir empat kali lipat dari tahun 2021, sementara kelompok industri peralatan listrik (KBLI 27) menghimpun 781 unit usaha aktif.
Baca Juga: Peluang Investasi Industri Mainan Melaju, Kemenperin Pacu Pasar Urban dan Ekspor
“Potensi ini menunjukkan bahwa IKM memiliki peluang besar untuk menjadi bagian penting dalam penguatan industri elektronika nasional. Pemerintah perlu mempercepat kemitraan antara IKM dengan industri besar dan BUMN guna memperkuat basis produksi sekaligus memberikan kepastian pasar,” ujar Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita.
Percepatan transisi gaya hidup hijau—seperti adopsi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap di kawasan residensial dan penggunaan stasiun pengisian kendaraan listrik umum—menciptakan permintaan komponen yang luar biasa masif.
“IKM berpeluang memasok modul pengisian daya, panel distribusi, komponen switchgear, konektor, wire harness untuk kendaraan listrik dan PLTS, PCB untuk battery management system, serta sistem proteksi dan sensor kelistrikan,” jelas Reni.
Peluang Relokasi Industri Global dan Kebijakan TKDN
Baca Juga: Peluang Cuan Industri Bambu: Kemenperin Genjot SDM Rantai Pasok Hijau
Penerapan instrumen Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara konsisten menguntungkan industri lokal untuk mensubstitusi ketergantungan impor suku cadang.
Dinamika rantai pasok global turut memberi angin segar lewat pergeseran investasi manufaktur multinasional menuju kawasan Asia Tenggara.
“Kebijakan TKDN pada industri elektronika dapat mempercepat substitusi impor komponen sekaligus membuka ruang bagi IKM yang mampu memenuhi spesifikasi teknis. Strategi China+1 yang diterapkan sejumlah perusahaan global juga memberikan peluang bagi Indonesia untuk menjadi alternatif basis manufaktur komponen strategis,” papar Reni.
Pembangunan infrastruktur digital penopang gaya hidup cerdas, seperti menara telekomunikasi 5G, kabel serat optik, hingga fasilitas pusat data (data center), memerlukan jutaan modul sensor dan PCBA presisi tinggi.
Baca Juga: IKM Parfum Binaan Kemenperin Tembus Ekspor, Peluang Emas Investasi Industri Kreatif
Kemenperin merespons peluang bisnis ini dengan merancang klaster IKM terpadu yang terhubung langsung dengan insentif serta pemantauan berkelanjutan.
Kemitraan Strategis Membuka Akses Pasar dan Modal Kerja
Sinergi konkret antara BUMN dan konglomerasi manufaktur menjadi fondasi utama demi menjamin keberlanjutan arus kas pelaku IKM lokal.
“Industri besar dan BUMN diharapkan dapat membuka akses nyata bagi IKM sebagai pemasok tier-2 formal, memberikan kepastian penyerapan produk melalui kontrak jangka menengah, memfasilitasi transfer pengetahuan teknis dan standar kualitas, serta mendukung pengembangan kapasitas IKM secara terstruktur,” ujar Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut Kemenperin, Emma Natalia.
Baca Juga: Program CBI Kemenperin Pacu Daya Saing IKM Fesyen dan Kriya
Pelaku usaha dituntut memacu standarisasi proses kerja guna memenuhi ekspektasi spesifikasi industri modern yang presisi dan konsisten.
“Kami mendorong IKM untuk meningkatkan standar produksi menuju sertifikasi ISO dan IPC, aktif mengikuti program business matching yang difasilitasi pemerintah, memanfaatkan akses pembiayaan seperti kredit usaha rakyat (KUR), serta membangun konsorsium untuk memenuhi kebutuhan produksi dalam skala besar,” pungkas Emma.




