URBANCITY.CO.ID – Gaya hidup keluarga urban masa kini menempatkan mainan bukan lagi sekadar sarana hiburan pelepas penat bagi buah hati, melainkan instrumen investasi tumbuh kembang anak.
Para orang tua modern aktif memburu produk interaktif yang merangsang kemampuan motorik, logika pemecahan masalah, serta imajinasi sejak usia dini.
Pergeseran preferensi konsumen perkotaan ini membuka peluang bisnis bernilai tinggi bagi ekosistem manufaktur domestik.
Kementerian Perindustrian sigap menangkap momentum emas tersebut dengan memacu daya saing industri mainan nasional melalui standarisasi ketat dan ekspansi pasar global.
Baca Juga: Potensi Bisnis Industri Gim Indonesia: Peluang Investasi Kreatif dari Kerja Sama Ekraf & Coda
Pemerintah mengarahkan para produsen lokal agar mampu mengisi rantai pasok modern sekaligus mendominasi etalase ritel gaya hidup urban di kota-kota besar.
Langkah konkret kementerian mewujud lewat perhelatan Indonesia Toy Forum 2026 yang menggandeng Asia Toy and Play Association (ATPA).
Kolaborasi strategis ini mempertemukan regulator, pelaku industri, akademisi, hingga peritel modern guna merancang peta jalan bisnis mainan yang adaptif terhadap selera pasar kontemporer.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menegaskan, komitmen pemerintah untuk terus mengawal perlindungan dan penguatan ekosistem industri manufaktur dalam negeri, termasuk industri mainan.
Baca Juga: Peluang Cuan Industri Bambu: Kemenperin Genjot SDM Rantai Pasok Hijau
“Tantangan utama industri nasional saat ini bukan sekadar kemampuan memproduksi, melainkan bagaimana kita memastikan produk-produk buatan dalam negeri diserap dan digunakan oleh masyarakat serta mampu mengambil peluang dalam rantai pasok global,” ujar Dirjen IKMA dalam keterangannya di Jakarta, Senin (5/10).
Reni memandang sektor ini sebagai ladang investasi padat karya yang menjanjikan nilai tambah ekonomi tinggi.
“Kita perlu memperkuat pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional,” tuturnya.
Pemerintah mendorong sinergi lintas sektor agar produsen lokal dapat menjawab dinamika pasar ritel modern dan ekosistem e-commerce.
Baca Juga: Investasi Pabrik Grease Shell Marunda Perkuat Rantai Pasok dan Industri Urban
“Pemerintah berperan menciptakan iklim usaha dan kebijakan yang mendukung, sementara pelaku industri menjadi motor utama dalam menghasilkan produk yang inovatif dan kompetitif. Sektor pendidikan dapat memberikan perspektif mengenai kebutuhan pembelajaran, sedangkan sektor ritel dan perdagangan digital dapat memperluas akses produk kepada konsumen,” ungkapnya.
Sektor manufaktur kreatif ini menggerakkan roda ekonomi riil dengan menyerap ribuan tenaga kerja terampil di berbagai daerah.
“Industri mainan memiliki fondasi produksi yang dapat terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Secara nasional, industri mainan telah menjadi bagian dari ekosistem industri yang melibatkan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar,” tuturnya.
Pasar Ekspor Melonjak, Basis Produksi Nasional Terus Tumbuh Kuat
Baca Juga: Vokasi Kemenperin Tembus Global: Cetak Talenta AI Industri Unggulan
Data BPS 2024 dan SIINas 2025 merekam 256 unit usaha aktif yang mempekerjakan 15.663 tenaga kerja di berbagai sentra industri, mulai dari Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Keberadaan sentra-sentra ini membuktikan kesiapan rantai pasok lokal dalam menopang volume produksi berskala besar.
Kinerja perdagangan luar negeri turut mencatat rapor hijau dengan surplus ekspor konsisten selama lima tahun terakhir. Nilai ekspor mainan Indonesia melonjak 8,2 persen pada 2025 hingga menembus angka USD 664,6 juta.
Tren ekspansi berlanjut pada semester I-2026 dengan perolehan USD 351,8 juta, melesat signifikan dibandingkan periode serupa tahun sebelumnya sebesar USD 297,7 juta.
Baca Juga: Industri Hijau & Ekonomi Sirkular: Peluang Investasi Masa Depan
“Pasar ekspor Indonesia saat ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, Cina, Australia, dan Republik Ceko, dan capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusinya di pasar global,” imbuh Dirjen IKMA.
Tren Mainan Edukatif Jadi Magnet Bisnis Baru Konsumen Urban
Masyarakat urban kini memandang produk mainan interaktif sebagai media stimulasi anak yang krusial di tengah pesatnya era digital. Kebutuhan ini melahirkan ceruk pasar bernilai tambah tinggi bagi para inovator dan investor lokal.
Reni menyoroti potensi besar pada kategori produk edukatif seperti papan permainan (board games), balok konstruksi, hingga teka-teki logika yang makin diminati keluarga modern.
Baca Juga: IKM Parfum Binaan Kemenperin Tembus Ekspor, Peluang Emas Investasi Industri Kreatif
“Hal ini memberikan peluang bagi industri mainan untuk mengembangkan produk seperti mainan edukatif, permainan konstruksi, puzzle, dan board game,” ucap Reni.
Pemerintah juga mempercepat serapan produk lokal ke proyek pengadaan institusional melalui sertifikasi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Sebanyak 65 entitas bisnis industri mainan telah berhasil mengantongi sertifikat kepatuhan bahan baku lokal tersebut hingga tahun 2026.
“Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan industri mainan nasional untuk memenuhi kandungan dalam negeri telah mulai terbentuk dan perlu terus diperluas agar semakin banyak produk lokal yang dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah,” jelasnya.
Baca Juga: Kemenperin Gandeng Rusia: Alih Teknologi Drone & Robotika untuk Industri
Standardisasi Mutu Pacu Daya Saing Produsen Menembus Pasar Global
Direktur Industri Aneka, Reny Meilany menegaskan urgensi standarisasi mutu demi menjamin aspek keselamatan anak dan daya pikat produk di mata konsumen cerdas.
“Kemenperin konsisten melakukan pembinaan dan fasilitasi bagi pelaku industri mainan, khususnya yang berskala IKM,” jelasnya.
Ditjen IKMA menyalurkan stimulus komprehensif, mulai dari sertifikasi SNI, pendampingan sistem manajemen mutu ISO 9001:2015, transformasi Industri 4.0, sosialisasi e-katalog, hingga program restrukturisasi permesinan modern.
Baca Juga: UNIDO Nobatkan Indonesia Jadi Best Practice Hilirisasi Industri
Fasilitasi temu bisnis (business matching) dan kurasi pameran global turut mempercepat penetrasi merek lokal ke pasar kelas atas.
Ajang Indonesia Toy Forum 2026 merangkum komitmen tersebut dengan menghadirkan pimpinan industri multinasional seperti The LEGO Group, PT Mattel Indonesia, EMWAY Globalindo, serta PT Chateda di Gedung Kemenperin.
Sebanyak 25 jenama terkemuka turut memamerkan lini inovasi terbarunya guna memperkuat citra bahwa mainan buatan lokal siap merajai pasar internasional.
“Indonesia Toy Forum 2026 diharapkan dapat menjadi momentum untuk menghasilkan pembahasan yang lebih konkret mengenai penguatan industri mainan nasional,” tutupnya.




