URBANCITY.CO.ID – Industri kreatif kini menjelma magnet ekonomi baru yang mendefinisikan ulang lanskap gaya hidup sekaligus portofolio finansial masyarakat perkotaan.
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif menginisiasi Forum Redaksi & Aspirasi Media Ekraf (FRAME) demi menyelaraskan arah investasi dan ekspansi industri kreatif bersama para pemangku kepentingan media nasional di Senayan, Jakarta, Rabu (30/9).
Langkah kolaboratif ini mempertegas peran sektor kreatif dalam mencetak lapangan kerja bergengsi, membuka peluang cuan berbasis inovasi, serta memperkuat ketahanan ekonomi kelas menengah urban.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, memaparkan strategi kementerian dalam mengawal transformasi sektor bernilai tambah tinggi ini.
Baca Juga: BNI Dukung Festival Seni MSI 2026: Investasi Ekonomi Kreatif Urban
“Acara ini bertujuan untuk media dan Kementerian Ekraf agar semakin dekat, juga untuk mengenalkan lebih dalam tentang penugasan yang diberikan kepada kementerian ini, serta apa yang sedang dan akan kami lakukan. Selaras dengan Asta Cita, Ekraf sebetulnya berkontribusi dalam hal lapangan kerja untuk generasi muda dan menopang kelas menengah,” kata Menteri Ekraf dalam forum yang berlangsung di kawasan Senayan, Jakarta, Rabu (30/9).
Potensi Valuasi Rp1.757 Triliun Menopang Finansial Kaum Muda
Aktivitas kreatif kaum urban kini memberikan kontribusi nyata yang melampaui kinerja mesin ekonomi konvensional.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif sanggup menembus angka impresif Rp1.757,87 triliun dengan akselerasi pertumbuhan 6,86%, mengungguli laju ekonomi nasional yang berada di level 5,11% sekaligus menuntaskan target RPJMN 2025 hingga 124%.
Baca Juga: Presiden Prabowo Tiba di Tanah Air, Bawa Komitmen Solusi Dua Negara dan Investasi Ekonomi
Komposisi tenaga kerja sektor ini merefleksikan dominasi talenta produktif kota besar, dengan porsi Milenial menyentuh 36,63% dan Gen Z mengamankan 26,40%, membuktikan kreativitas sebagai instrumen pendapatan primer yang menjanjikan.
Pemerintah memacu penguatan aset tak berwujud berupa Kekayaan Intelektual (Intellectual Property/IP) agar menghasilkan aliran devisa berkesinambungan bagi para kreator lokal.
“Memperkuat hal tersebut, akan hadir WCCE karena ekraf ditugaskan pemerintah sebagai soft diplomacy. Jadi, tidak hanya seni budayanya yang kita bawa keluar, tetapi juga IP dari ekonomi kreatifnya supaya memberikan nilai ekonomi yang menambah devisa negara,” ujar Teuku Riefky.
Monetisasi Aset IP Menembus Pasar Global Lewat WCCE 2026
Baca Juga: Revitalisasi UMKM Sumatera: Peluang Investasi dan Akselerasi Ekonomi
Peluang ekspansi global terbuka semakin lebar ketika Indonesia bersiap memimpin agenda The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) pada 2026 mendatang.
Konferensi internasional ini mengusung misi strategis melahirkan Jakarta Vision on Creative Economy, yang memosisikan kekayaan intelektual kreator domestik ke pusat rantai pasok ekonomi global pasca-SDG 2030.
Indonesia sekaligus mencetak sejarah di Asia Tenggara lewat integrasi penuh skema heksaheliks yang membuka akses permodalan langsung antara kreator, investor, akademisi, dan pemerintah lintas negara.
Wamen Ekraf, Irene Umar, menegaskan besarnya benefit diplomasi ekonomi dan kemitraan bisnis konkret dalam gelaran internasional tersebut.
Baca Juga: Investasi SDM, BNI Sahabat Sekolah Rakyat Tanam Literasi Keuangan
“WCCE ini adalah untuk membawa resolusi ini ke United Nations, selain itu, ini menjadi ajang di mana stakeholders akan berkumpul bersama dari government hingga bisnis. Terlebih lagi WCCE bukan hanya ada plenary meeting tapi juga ada G2G meeting,” jelas Wamen Ekraf.
Kolaborasi Media Mempercepat Pertumbuhan Investasi Kreatif
Pelaku industri media memandang sektor kreatif sebagai tambang emas baru yang menawarkan prospek investasi jangka panjang tanpa batas depresiasi fisik.
Kemitraan strategis antara regulator dan media massa mempercepat terbentuknya ekosistem komersial yang sehat bagi para pelaku usaha konten, penyiaran, hingga teknologi digital.
Baca Juga: Panen Medali Asian Games 2026: BNI Buktikan Investasi Olahraga Berkelanjutan
Wakil Pemimpin Redaksi TV One, Wahyu Kustyanto, menilai ekonomi kreatif memiliki potensi tanpa batas yang layak menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kementerian Ekonomi Kreatif ini penting sekali. Ini bisa jadi pilar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Karena kan kalau kreativitas itu kan tidak ada matinya, sementara, kalau sumber daya alam kan ada habisnya. Jadi harusnya memang negara, pemerintah harus serius betul menggarap ekonomi kreatif ini,” ujar Wahyu.
Apresiasi terhadap kemudahan komunikasi dan pendampingan industri turut mengalir dari perwakilan media penyiaran nasional.
Pemimpin Redaksi MDTV, Ponco Wijaya, memuji responsivitas kementerian dalam membina iklim sinema dan televisi modern.
Baca Juga: Peluang Investasi dan Wisata Kelas Dunia di Balik MotoGP Mandalika 2026
“Support pembinaan ekraf ke industri televisi dan film bahwa saat ini sudah bagus, sudah sangat cepat untuk komunikasi yang terjalin itu sangat baik,” ungkap Ponco.
Forum FRAME yang dihadiri jajaran Eselon I dan Eselon II Kementerian Ekraf ini sukses meletakkan fondasi sinergi solid demi mengerek valuasi industri kreatif nasional ke pentas global.




