URBANCITY.CO.ID – PT Pertamina Patra Niaga (PPN) resmi memulai Proyek Hilirisasi Nasional Fase II melalui pengembangan Kilang Gasoline di Cilacap dan Dumai.
Langkah strategis ini diambil untuk memperkuat kedaulatan energi nasional sekaligus menekan ketergantungan terhadap impor Bahan Bakar Minyak (BBM) secara signifikan.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari dukungan terhadap program Asta Cita Pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah domestik.
Dongkrak Kapasitas Produksi Nasional
Melalui konsep high conversion refinery, kilang ini didesain untuk mengolah produk menjadi komoditas bernilai tinggi.
Baca Juga: Hari Kartini 2026: Pertamina Patra Niaga Perkuat Kesetaraan Gender di Industri Energi
Kilang Dumai ditargetkan memproduksi 0,9 juta kiloliter (KL) gasoline per tahun, sementara Kilang Cilacap diproyeksikan menghasilkan 1,1 juta KL gasoline.
“Melalui pendekatan Dual Growth Strategy, Pertamina Patra Niaga memperkuat bisnis eksisting sekaligus meningkatkan kompleksitas kilang agar mampu menghasilkan produk bernilai tinggi yang memiliki daya saing global,” ujar Roberth M.V. Dumatubun.
Secara teknis, Kilang Gasoline Dumai akan memiliki kapasitas 30 ribu barel per hari (bph), sedangkan Kilang Gasoline Cilacap mencapai 32 ribu bph.
Dampak Ekonomi dan Penyerapan Tenaga Kerja
Proyek ini diprediksi memberikan dampak ekonomi yang masif bagi Indonesia. Selain potensi penghematan devisa negara hingga Rp20 triliun per tahun, proyek konstruksi dan operasi ini diperkirakan akan menyerap hingga 6.000 tenaga kerja.




