Xi Jinping: Cina dan AS Harus Menjadi Mitra, Bukan Rival
Melalui pernyataan resmi tertulisnya, Xi Jinping menyambut gembira kunjungan kenegaraan ini. Ia kembali menegaskan urgensi stabilitas kerja sama bilateral di antara kedua negara adidaya.
“Kedua pihak harus saling mendekat dan bekerja sama untuk membangun hubungan yang stabil, hubungan di mana kerja sama menjadi tumpuan utama, persaingan dijaga dalam batas yang tepat, perbedaan dikelola, dan perdamaian dapat diharapkan,” ujar Xi Jinping, dilansir dari Financial Times.
Xi menilai tahun 2026 sebagai momentum yang sangat penting. Momen ini menentukan masa depan arah diplomasi kedua negara besar.
“Bersama-sama kita dapat dan harus menemukan pendekatan yang tepat bagi China dan Amerika Serikat, dua negara besar, untuk saling memahami di era baru ini. Saya yakin kita bisa melakukannya,” tegas Xi.
Menakar Negosiasi Perang Dagang, Taiwan, hingga Regulasi AI
Kedua pemimpin negara merancang agenda maraton sepanjang Kamis dan Jumat pagi. Agendanya mencakup negosiasi ekonomi, dialog teknologi, hingga perhelatan budaya. Menkeu Scott Bessent membocorkan bahwa delegasi Beijing telah menyodorkan draf kesepakatan dagang bernilai lebih besar.
Selain isu ekonomi, KTT ini membahas dialog risiko kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Agenda hari Kamis di South Lawn Gedung Putih akan menghadirkan parade militer. Atraksi jet tempur F-22 Raptor dan pesawat pengebom B-2 Spirit turut memeriahkan acara.
Pada Kamis malam, Trump menjadwalkan jamuan santap malam kenegaraan. Jamuan mewah ini menghadirkan deretan bos korporasi teknologi ternama AS. Elon Musk, CEO Nvidia Jensen Huang, dan CEO OpenAI Sam Altman dijadwalkan hadir. Tamu undangan lain mencakup Jane Fraser dari Citigroup hingga mantan CEO Apple Tim Cook.
Namun, isu Taiwan tetap membayangi meja perundingan. Sikap Trump pada Mei lalu yang menyebut penjualan senjata ke Taiwan sebagai kartu negosiasi memicu kewaspadaan tinggi. Beijing kembali menegaskan klaim kedaulatannya atas Taiwan sebelum keberangkatan Xi. Otoritas Cina mengingatkan bahwa salah langkah dalam menangani isu Taiwan dapat memicu konflik terbuka yang berbahaya.




