Baca juga: Sinergi Tambak Bandeng dan Rumput Laut: Strategi Cerdas Tingkatkan Profitabilitas Bisnis Pesisir
Petani saat ini hanya menerima margin keuntungan yang sangat tipis, yakni Rp3.000 per kilogram setelah dikurangi upah buruh panen sebesar Rp1.000.
Rantai distribusi yang panjang melalui tengkulak sebelum mencapai pabrik pengolahan sering kali memotong potensi pendapatan petani secara signifikan.
Sehingga, akumulasi modal untuk investasi alat yang lebih baik sulit tercapai.
Masyarakat urban yang peduli terhadap perdagangan adil (fair trade) tentu melihat fenomena ini sebagai celah untuk intervensi model bisnis baru.
Modernisasi akses pasar melalui koperasi atau platform digital dapat memangkas perantara dan meningkatkan harga jual di tingkat tambak.
Baca juga: Pesta Laut Desa Sedari: Mengubah Tradisi Lokal Jadi Destinasi Wisata Unggulan yang Menjanjikan
Dengan memberikan nilai tambah melalui pengolahan mandiri, petani dapat meningkatkan posisi tawar mereka dan beralih dari sekadar buruh tani menjadi pengusaha rumput laut yang mandiri.
Menuju Pertanian Pesisir yang Tangguh
Keberlanjutan bisnis rumput laut di Karawang memerlukan pendekatan investasi yang lebih holistik, mencakup teknologi pengeringan dan akses permodalan yang stabil.
Petani membutuhkan dukungan infrastruktur modern agar hasil panen belasan ton setiap musim tidak lagi bergantung pada keberuntungan cuaca.
Keamanan pendapatan merupakan kunci utama untuk menarik minat generasi muda agar tetap menekuni profesi ini sebagai pilar ekonomi bahari.




