URBANCITY.CO.ID – Sektor budi daya rumput laut di pesisir Karawang saat ini menghadapi tantangan besar akibat kerentanan terhadap perubahan cuaca ekstrem.
Proses pengeringan yang bergantung sepenuhnya pada sinar matahari menciptakan risiko tinggi.
Di mana hujan yang turun tiba-tiba mampu menurunkan kualitas produk secara drastis hingga tidak lagi layak jual.
Bagi para petani, setiap butir rumput laut merupakan investasi kerja keras yang terancam sirna dalam hitungan jam jika sistem pengeringan tidak terlindungi.
“Kalau panas kenceng, satu hari udah kering,” ujar seorang petani menjelaskan efektivitas penjemuran saat kondisi cuaca ideal.
Baca juga: Kemendag Ekspor Rumput Laut Maros ke Tiongkok: Optimalkan Resi Gudang dan Desa BISA Ekspor
Namun, kegagalan pascapanen akibat cuaca tidak hanya membuang waktu, tetapi juga menggerus modal kerja yang petani tanamkan sejak awal musim.
Produk yang mengalami perubahan warna menjadi putih akibat terkena hujan terpaksa harus mereka alihkan fungsinya menjadi pakan ikan, sebuah kerugian finansial yang nyata.
Ketidakpastian iklim ini menuntut inovasi teknologi pascapanen, seperti rumah pengering tertutup, agar produktivitas bulanan yang mencapai sepuluh ton dapat terjaga kualitas dan harganya.
“Kalau ini pengeringan terus ada hujan, malah nanti jelek, posisinya putih gitu. Enggak layak kalau begini. Jadi sia-sia, paling jadi umpan pakan bandeng,” katanya.

Analisis Margin dan Rantai Distribusi
Ketimpangan harga di tingkat petani menjadi masalah sistemik yang menghambat pertumbuhan ekonomi di kawasan pesisir.




