“Hari ini kita peringati 81 tahun hari lahirnya Pancasila. Delapan puluh satu tahun yang lalu, Bung Karno berdiri di hadapan Sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan menyampaikan gagasan besar yang kemudian menjadi dasar falsafah negara Republik Indonesia,” urai Presiden Prabowo dengan nada penuh takzim.
Bagi Prabowo, Pancasila bukanlah teori kosong yang dipaksakan, melainkan kristalisasi dari keringat sejarah, adat budaya, serta mimpi-mimpi luhur masyarakat Nusantara.
“Pancasila adalah sebuah konsensus agung, suatu kesepakatan kebangsaan yang memungkinkan bangsa kita, yang terdiri atas ribuan pulau, ratusan suku bangsa, ratusan bahasa, dan ratusan budaya yang berbeda-beda untuk hidup sebagai satu bangsa,” tegas Kepala Negara.
Pegangan Kokoh di Tengah Badai Global
Tahun ini, peringatan Hari Lahir Pancasila mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”.
Baca juga: Disambut Upacara Militer di Paris, Presiden Prabowo Inspeksi Pasukan Prancis
Sebuah jargon yang dinilai Presiden sangat kontekstual dan mendalam, terutama ketika dunia hari ini sedang dikepung oleh badai ketidakpastian global yang luar biasa.
“Di tengah dunia yang makin terpecah oleh pertikaian, rivalitas geopolitik, perang dagang dan ketidakpastian ekonomi, Indonesia memiliki pegangan yang kokoh, pegangan itu adalah Pancasila,” ucap Presiden optimis.
Rangkaian upacara yang berlangsung tertib dan penuh khidmat tersebut akhirnya ditutup dengan pembacaan doa oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti.




